Translate

Jumat, 26 Desember 2014

Akar Hancurnya Tradisi Akademik

AKAR HANCURNYA TRADISI AKADEMIK DI KALANGAN MAHASISWA
(Dalam Telaah Pemikiran David Harvey)




Berawal dari Sebuah Pertanyaan

Pertanyaannya adalah “kenapa ya, mahasiswa dulu sama sekarang sangat berbeda? Mahasiswa dulu senang dan militan ketika diajak kumpul-kumpul dan berdiskusi atau melakukan kegiatan-kegiatan akademik lainnya, jauh banget sama mahasiswa sekarang. Coba lihat saja, dipojok-pojok sana mereka hanya bergerombol, mempergunjingkan hal-hal yang tidak ada kaitannya sekali dengan dunia akademik, lihat beberapa mahasiswa yang di sana yang sudah hampir separuh waktunya dihabiskan untuk genjreng-genjreng menyanyikan lagu cinta-cintaan ala ABG (Anak Baru Gede), atau lihat gerombolan mahasiswa yang di sana yang kumpul-kumpul, menenggak Anggur Cap Orang Tua (AO) sambil bermain kartu, atau lihat lah tawuran mahasiswa yang terjadi lantaran ingin mendapatkan merk jagoan dalam kepribadiannya yang narsistik, atau lihat saja seorang mahasiswa yang telah memecahkan kaca sebuah ruang diskusi lantaran otaknya yang telah terfilistinisasi... dan lain-lain, dan sebagainya...”

Tulisan ini akan berusaha memaparkan --dengan meminjam pemikirannya David Harvey--tentang mengapa fenomena konyol seperti itu bisa terjadi dalam kepribadian mahasiswa, kelakuan mahasiswa yang “lupa diri.” Lupa kalau dirinya adalah “mahasiswa.”

Fenomena Pemadatan Ruang dan Waktu

David Harvey dalam buku yang ditulisnya “The Condition of Posmodernity” mengatakan bahwa pada saat ini manusia sedang hidup dalam ruang dan waktu yang dipadatkan. Pemadatan ruang dan waktu ini, dalam kacamata seorang Yasraf Amir Pilliang, diistilahkan dengan fenomena dunia yang dilipat.

Pemadatan ruang dan waktu ini, menurut David Harvey, merupakan dampak dari bekerjanya kapitalisme yang berorientasi pada akumulasi fleksibel. Apa maksud perkataan dari David Harvey ini? Berikut ini penulis berusaha untuk mengulas pemikiran David Harvey yang kemudian akan penulis kaitkan dengan jawaban atas pertanyaan tersebut di atas.

Menurut David Harvey watak kapitalisme sebelum tahun 1930 dengan pasca 1930 dan 1970-an sangatlah berbeda. Kalau sebelum tahun 1930 untuk melakukan akumulasi kapital kapitalis membutuhkan barang mentah sebagai syarat dari proses produksi dalam kegiatan ekonomi yang berbasis manufaktur, pasca 1930-1970-an barang mentah telah mengalami pergeseran sebagai syarat dari proses produksi. Proses memproduksi barang mentah, dalam perkembangan kapitalis lanjut, telah digeser atau tergantikan dengan proses memproduksi finansial dalam transaksi keuangan dalam lembaga-lembaga finansial, seperti bank dan bursa saham.

Dengan terjadinya pergeseran dari barang mentah ke bisnis finansial, maka kapitalis lanjut mengalami fleksibelitas dalam melakukan akumulasi kapital. Jika kapitalis model jadul (jaman dulu) apabila ingin memindahkan modalnya dia harus memindahkan bisnis manufakturnya (pabrikan) ke tempat lain dan memakan waktu yang tidak sebentar, maka dalam kapitalisme lanjut para kapitalis tidak perlu melakukan hal itu, dia cukup pencet tombol dari jarak jauh, melalui kecanggihan tekhnologi komputer, dalam hitungan menit [bahkan detik] modal yang dimilikinya pun berpindah.

Fleksibelitas atau kelenturan dalam kinerja kapitalisme lanjut memungkinkan terjadinya akumulasi kapital secara maksimal, George Soros atau Alan Greenspans adalah diantara para kapitalis sukses di dalam dunia bisnis berbasiskan finansial. Dengan terjadinya pergeseran ini, maka terjadi juga pergeseran pemaknaan kelas kapitalis. Jika kelas kapitalis jadul diidentifikasikan sebagai kelas yang melulu pemilik modal, alat produksi, dan buruh upahan, tetapi dalam kapitalisme lanjut (baca: Neoliberalisme) kelas kapitalis bisa saja muncul dalam CEO-CEO (manajer) dimana mereka tidak selalu memiliki alat produksi tetapi hanya memiliki binis finansial. Bahkan, David Harvey mengatakan, CEO-CEO (Chief Exsekutif Officer) kuasanya melebihi kapitalis jadul. Kita tinggalkan ulasan terjadinya pergeseran makna kelas ini, untuk lebih memfokuskan pada ulasan terkait dengan judul dalam note ala pesbuk ini...

Fleksibelitas dalam kinerja kapitalis lanjut ini, berdampak pula terhadap terjadikan flesibelitas ke dalam berbagai hal. Contoh dari dampak fleksibelitas kapital ini yang paling mencolok mata adalah munculnya barisan para pekerja (buruh) kontrak atau outsourching. Buruh kontrak adalah buruh fleksibel yang dapat digunakan (baca: diperkosa) dan dibuang oleh kapitalis kapan pun si kapitalis mau. Jika si kapitalis lagi kebanjiran order, maka dia akan merekrut sebanyak-banyaknya--tentunya dengan upah rendah--buruh yang tersedia dengan melimpah, tetapi kalau iklim pasar sedang suram pecat saja mereka, beres ga usah kebanyakan mikir!

Selain buruh kontrak yang menandai menyeruaknya fleksibelitas dalam sistem kapitalisme, fleksibelitas itu juga muncul dalam bentuk pemadatan ruang dan waktu (time-space compression). Dalam pemadatan ruang dan waktu, semuanya dibuat super cepat dan super instan. O iya, sebelum aku melanjutkan ulasan tentang pemadatan ruang dan waktu, ada baiknya aku sampaikan kepada pembaca apa yang dimaksud dengan pemadatan ruang dan waktu.

Pemadatan ruang dan waktu dalam bahasa sehari-harinya dapat dicontohkan begini: Misalnya Anda berjalan dari rumah anda ke sebuah toko buku di kota Anda. Berapa lama perjalanan dari rumah Anda ke toko buku itu? Jika anda berjalan kaki, maka jarak yang harus Anda tempuh, misalnya, 1 jam. Tapi, jika Anda menempuhnya dengan sepeda onthel/genjot/GL (Genjot Langsung) adalah 25 menit. Sedangkan jika Anda menempuhnya dengan kendaraan bermotor hanya 5 menit. Apalagi jika Anda naik pesawat, bisa jadi hanya 25 detik. dari 1 jam ke 25 menit ke 5 menit, lalu ke 25 detik inilah yang dinamakan dengan terjadinya pemadatan/peringkasan waktu.

Hal yang sangat mendorong terhadap terjadinya pemadatan ruang adalah dinamika tekhnologi. Dalam pandangan David Harey, tekhnologi adalah syarat materil yang vital bagi beroperasinya kapitalisme lanjut yang kinerjanya diorientasikan pada fleksibelitas. Dengan ditemukannya televisi, komputer, dan internet, orang tidak perlu jauh-jauh mendatangi tempat kejadian untuk mendapatkan informasi sebuah peristiwa, juga duduk manis di depan alat elektronika tersebut orang sudah memperoleh informasi yang dia inginkannya. Berangkat dari sini, dapatlah dilihat terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu.

Pemadatan/pelipatan ruang dan waktu ini terjadi ke semua segmen kehidupan manusia, baik itu segmen yang dikategorikan privat, maupun segmen yang masuk dalam kategori ruang publik. Kalau Anda ingin berbelanja, pada saat ini Anda tidak perlu pergi ke pasar, tinggal pencet tombol komputer Anda bayar melalu transfer rekening, tunggu dan barang akan datang memuaskan keinginan Anda. Jika Anda ingin seks di dunia maya, juga cari situsnya, bayar penyedia layanannya melalui transfer rekening, dan kemudian Anda dapat bermasturbasi sambil menikmati tontontan manusia maya yang sedang Anda setubuhi. Jika Anda malas masak, tinggal telepon kFC (Kentucky Fried Chiken) di ujung jalan sana, dengan segera makanan instans akan datang memuaskan selera maka Anda..... dan masih buuuuuuuuanyak lagi contoh terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu....

Bangkitnya Mental Pemalas

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apa dampak dari terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu itu?! Jawabannya adalah "hilangnya kedalaman." Orang ketika terperangkap dalam hal-hal yang serba ringkas, instan, dan cepat saji akan didorong dengan kuat untuk menjadi manusia pemalas. Mental pemalas inilah, yang sebenarnya dirayakan oleh para kapitalis, karena mereka akan berlomba-lomba menanamkan investasi dalam bentuk penanaman saham terhadap komoditi-komoditi yang serba ringkas, instan, cepat saji, dan lekas usang.

Keadaan seperti tersebut diatas, kemudian mendorong masyarakat membangun kebudayaan POSTMODERN yang mewartakan ketidaksetabilan, penihilan, dan penghancuran obyek. Dalam bahasa Alvin Toffler, masyarakat seperti ini diidentifikasikan sebagai masyarakat pembuang (Throw Society).

Dengan menggilanya pemadatan ruang dan waktu ini, maka hal ini berdampak pada keadaan mahasiswa tidak kritis pada saat ini. Mereka malas untuk berpikir, pengennya yang serba ringkas, instan, dan cepat saji. Hancurnya kepribadian mahasiswa yang bernafsu untuk berpikir mendalam, menghancurkan pula minat mahasiswa terhadap tradisi akademik.

MAHASISWA SEPERTI INILAH YANG DINAMAKAN DENGAN MAHASISWA FILISTIN..!!


Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono, Penulis dan Akademisi

0 komentar:

Posting Komentar