Berawal dari Sebuah Pertanyaan
Pertanyaannya adalah “kenapa
ya, mahasiswa dulu sama sekarang sangat berbeda? Mahasiswa dulu senang dan
militan ketika diajak kumpul-kumpul dan berdiskusi atau melakukan
kegiatan-kegiatan akademik lainnya, jauh banget sama mahasiswa sekarang. Coba
lihat saja, dipojok-pojok sana mereka hanya bergerombol, mempergunjingkan
hal-hal yang tidak ada kaitannya sekali dengan dunia akademik, lihat beberapa
mahasiswa yang di sana yang sudah hampir separuh waktunya dihabiskan untuk
genjreng-genjreng menyanyikan lagu cinta-cintaan ala ABG (Anak Baru Gede), atau
lihat gerombolan mahasiswa yang di sana yang kumpul-kumpul, menenggak Anggur
Cap Orang Tua (AO) sambil bermain kartu, atau lihat lah tawuran mahasiswa yang
terjadi lantaran ingin mendapatkan merk jagoan dalam kepribadiannya yang
narsistik, atau lihat saja seorang mahasiswa yang telah memecahkan kaca sebuah
ruang diskusi lantaran otaknya yang telah terfilistinisasi... dan lain-lain,
dan sebagainya...”
Tulisan ini akan berusaha memaparkan --dengan meminjam
pemikirannya David Harvey--tentang mengapa fenomena konyol seperti itu bisa
terjadi dalam kepribadian mahasiswa, kelakuan mahasiswa yang “lupa diri.” Lupa kalau dirinya adalah “mahasiswa.”
Fenomena Pemadatan Ruang dan Waktu
David Harvey dalam buku yang ditulisnya “The Condition of
Posmodernity” mengatakan bahwa pada saat ini manusia sedang hidup dalam ruang
dan waktu yang dipadatkan. Pemadatan ruang dan waktu ini, dalam kacamata
seorang Yasraf Amir Pilliang, diistilahkan dengan fenomena dunia yang dilipat.
Pemadatan ruang dan waktu ini, menurut David Harvey, merupakan
dampak dari bekerjanya kapitalisme yang berorientasi pada akumulasi fleksibel.
Apa maksud perkataan dari David Harvey ini? Berikut ini penulis berusaha untuk
mengulas pemikiran David Harvey yang kemudian akan penulis kaitkan dengan
jawaban atas pertanyaan tersebut di atas.
Menurut David Harvey watak kapitalisme sebelum tahun 1930 dengan
pasca 1930 dan 1970-an sangatlah berbeda. Kalau sebelum tahun 1930 untuk
melakukan akumulasi kapital kapitalis membutuhkan barang mentah sebagai syarat
dari proses produksi dalam kegiatan ekonomi yang berbasis manufaktur, pasca
1930-1970-an barang mentah telah mengalami pergeseran sebagai syarat dari
proses produksi. Proses memproduksi barang mentah, dalam perkembangan kapitalis
lanjut, telah digeser atau tergantikan dengan proses memproduksi finansial
dalam transaksi keuangan dalam lembaga-lembaga finansial, seperti bank dan
bursa saham.
Dengan terjadinya pergeseran dari barang mentah ke bisnis
finansial, maka kapitalis lanjut mengalami fleksibelitas dalam melakukan
akumulasi kapital. Jika kapitalis model jadul (jaman dulu) apabila ingin
memindahkan modalnya dia harus memindahkan bisnis manufakturnya (pabrikan) ke tempat
lain dan memakan waktu yang tidak sebentar, maka dalam kapitalisme lanjut para
kapitalis tidak perlu melakukan hal itu, dia cukup pencet tombol dari jarak
jauh, melalui kecanggihan tekhnologi komputer, dalam hitungan menit [bahkan
detik] modal yang dimilikinya pun berpindah.
Fleksibelitas atau kelenturan dalam kinerja kapitalisme lanjut
memungkinkan terjadinya akumulasi kapital secara maksimal, George Soros atau
Alan Greenspans adalah diantara para kapitalis sukses di dalam dunia bisnis
berbasiskan finansial. Dengan terjadinya pergeseran ini, maka terjadi juga
pergeseran pemaknaan kelas kapitalis. Jika kelas kapitalis jadul
diidentifikasikan sebagai kelas yang melulu pemilik modal, alat produksi, dan
buruh upahan, tetapi dalam kapitalisme lanjut (baca: Neoliberalisme) kelas
kapitalis bisa saja muncul dalam CEO-CEO (manajer) dimana mereka tidak selalu
memiliki alat produksi tetapi hanya memiliki binis finansial. Bahkan, David
Harvey mengatakan, CEO-CEO (Chief Exsekutif Officer) kuasanya melebihi kapitalis
jadul. Kita tinggalkan ulasan terjadinya pergeseran makna kelas ini, untuk
lebih memfokuskan pada ulasan terkait dengan judul dalam note ala pesbuk ini...
Fleksibelitas dalam kinerja kapitalis lanjut ini, berdampak pula
terhadap terjadikan flesibelitas ke dalam berbagai hal. Contoh dari dampak
fleksibelitas kapital ini yang paling mencolok mata adalah munculnya barisan
para pekerja (buruh) kontrak atau outsourching. Buruh kontrak adalah buruh
fleksibel yang dapat digunakan (baca: diperkosa) dan dibuang oleh kapitalis
kapan pun si kapitalis mau. Jika si kapitalis lagi kebanjiran order, maka dia
akan merekrut sebanyak-banyaknya--tentunya dengan upah rendah--buruh yang
tersedia dengan melimpah, tetapi kalau iklim pasar sedang suram pecat saja
mereka, beres ga usah kebanyakan mikir!
Selain buruh kontrak yang menandai menyeruaknya fleksibelitas
dalam sistem kapitalisme, fleksibelitas itu juga muncul dalam bentuk pemadatan
ruang dan waktu (time-space compression). Dalam pemadatan ruang dan waktu,
semuanya dibuat super cepat dan super instan. O iya, sebelum aku melanjutkan
ulasan tentang pemadatan ruang dan waktu, ada baiknya aku sampaikan kepada
pembaca apa yang dimaksud dengan pemadatan ruang dan waktu.
Pemadatan ruang dan waktu dalam bahasa sehari-harinya dapat
dicontohkan begini: Misalnya Anda berjalan dari rumah anda ke sebuah toko buku
di kota Anda. Berapa lama perjalanan dari rumah Anda ke toko buku itu? Jika
anda berjalan kaki, maka jarak yang harus Anda tempuh, misalnya, 1 jam. Tapi,
jika Anda menempuhnya dengan sepeda onthel/genjot/GL (Genjot Langsung) adalah
25 menit. Sedangkan jika Anda menempuhnya dengan kendaraan bermotor hanya 5
menit. Apalagi jika Anda naik pesawat, bisa jadi hanya 25 detik. dari 1 jam ke
25 menit ke 5 menit, lalu ke 25 detik inilah yang dinamakan dengan terjadinya
pemadatan/peringkasan waktu.
Hal yang sangat mendorong terhadap terjadinya pemadatan ruang
adalah dinamika tekhnologi. Dalam pandangan David Harey, tekhnologi adalah
syarat materil yang vital bagi beroperasinya kapitalisme lanjut yang kinerjanya
diorientasikan pada fleksibelitas. Dengan ditemukannya televisi, komputer, dan
internet, orang tidak perlu jauh-jauh mendatangi tempat kejadian untuk
mendapatkan informasi sebuah peristiwa, juga duduk manis di depan alat elektronika
tersebut orang sudah memperoleh informasi yang dia inginkannya. Berangkat dari
sini, dapatlah dilihat terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu.
Pemadatan/pelipatan ruang dan waktu ini terjadi ke semua segmen
kehidupan manusia, baik itu segmen yang dikategorikan privat, maupun segmen
yang masuk dalam kategori ruang publik. Kalau Anda ingin berbelanja, pada saat
ini Anda tidak perlu pergi ke pasar, tinggal pencet tombol komputer Anda bayar
melalu transfer rekening, tunggu dan barang akan datang memuaskan keinginan
Anda. Jika Anda ingin seks di dunia maya, juga cari situsnya, bayar penyedia
layanannya melalui transfer rekening, dan kemudian Anda dapat bermasturbasi
sambil menikmati tontontan manusia maya yang sedang Anda setubuhi. Jika Anda malas
masak, tinggal telepon kFC (Kentucky Fried Chiken) di ujung jalan sana, dengan
segera makanan instans akan datang memuaskan selera maka Anda..... dan masih
buuuuuuuuanyak lagi contoh terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu....
Bangkitnya
Mental Pemalas
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apa dampak dari
terjadinya pemadatan/pelipatan ruang dan waktu itu?! Jawabannya adalah
"hilangnya kedalaman." Orang ketika terperangkap dalam hal-hal yang
serba ringkas, instan, dan cepat saji akan didorong dengan kuat untuk menjadi
manusia pemalas. Mental pemalas inilah, yang sebenarnya dirayakan oleh para
kapitalis, karena mereka akan berlomba-lomba menanamkan investasi dalam bentuk
penanaman saham terhadap komoditi-komoditi yang serba ringkas, instan, cepat
saji, dan lekas usang.
Keadaan seperti tersebut diatas, kemudian mendorong masyarakat
membangun kebudayaan POSTMODERN yang mewartakan ketidaksetabilan, penihilan,
dan penghancuran obyek. Dalam bahasa Alvin Toffler, masyarakat seperti ini
diidentifikasikan sebagai masyarakat pembuang (Throw Society).
Dengan menggilanya pemadatan ruang dan waktu ini, maka hal ini
berdampak pada keadaan mahasiswa tidak kritis pada saat ini. Mereka malas untuk
berpikir, pengennya yang serba ringkas, instan, dan cepat saji. Hancurnya
kepribadian mahasiswa yang bernafsu untuk berpikir mendalam, menghancurkan pula
minat mahasiswa terhadap tradisi akademik.
MAHASISWA
SEPERTI INILAH YANG DINAMAKAN DENGAN MAHASISWA FILISTIN..!!
Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono,
Penulis dan Akademisi




0 komentar:
Posting Komentar