Translate

Senin, 29 Desember 2014

Sumbangan Venezuela Untuk Sosialisme Abad 21 Bagian I




Kapitalisme akan menggali liang kuburnya sendiri. Satu hukum yang pasti bagi kapitalisme, dengan penguasaan atas alat produksi ditangan segelintir orang (borjuasi) untuk menghisap nilai lebih (keringat dan darah) dari kaum pekerja, spesialisasi kerja, penekanan biaya produksi telah mengorganisasikan Rakyat menjadi satu kekuatan yang berhari depan dan siap meruntuhkan kekuasaan modal untuk mendiri tegakkan tatanan sosial tanpa penghisapan manusia atas manusia. Ya, satu analisa Marx terhadap pertentangan dalam tubuh kapitalisme bahwa kelas Proletar dan Borjuis tidak akan terdamaikan, salah satunya harus runtuh!!

Begitu juga yang terjadi di Venezuela, dimana presiden Rakyat Venezuela (Hugo Chávez Frias) telah memberikan satu bentuk praktek perjuangan Rakyat yang konkrit untuk menegakkan negara yang menjujung tinggi Rakyatnya (Sosialisme Abad 21) bahkan terkesan meruntuhkan mitos revolusi sosialis selama ini yang mengatakan bahwa kemenangan Rakyat hanya bisa dicapai dengan jalan kekerasan―Chávez memilih jalan elektoral (pemilu) untuk membentuk satu badan konstitusi yang berpihak pada Rakyat. Disisi lain, revolusi Venezuela telah mematahkan serta mengubur dalam-dalam kebohongan Invisible Hand untuk mensejahterakan umat manusia di bawah hegemoni kapitalisme neoliberal yang biadab dan tidak manusiawi. Disini aku tidak bermaksud bahwa apa yang terjadi di Venezuela bisa kita adopsi seutuhnya. Mungkin ini subyektif, tapi bagi ku Inilah yang dimaksud dengan seni perjuangan Rakyat―bahwa perjuangan untuk membebaskan Rakyat bisa dilakukan dengan berbagai metode serta pilihan strategi dan taktik yang bersesuaian dengan keadaan. Dengan memanfaatkan berbagai SDM dan teknologi yang ada, Chávez berhasil menentukan pilihan strategi yang tepat!!

Syahdan, pada 27 Februari tahun 1989, tahun dimana kita mengenal peristiwa Caracazo.Ya, peristiwa “ledakan kemarahan” Rakyat terhadap pemerintahan Carlos Andrés Perézyang baru naik tahta pada tanggal 2 Februari 1989. Kemarahan Rakyat dipicu oleh kebijakan pemerintah yang sejatinya perpanjangan tangan negara imperialis Amerika melalui Structural Adjusment Program (SAP) yang di gawangi oleh IMF. Kebijakan ini adalah bentuk Reformasi Ekonomi Neoliberal yang mengakibatkan suku bunga mengambang, kenaikan pajak pada sektor pelayanan publik,, penghapusan tarif impor secara progresif, pengurangan 4 persen dalam defisit anggaran pendapatan dan belanja negara, pelemahan buruh dengan sistem ikatan kerja yang lebih fleksibel, kenaikan upah yang hanya 5% serta kenaikan harga secara nasional. Dekrit Eksekutif mengijinkan perusahaan asing untuk membayarkan 100% keuntungan mereka ke negara asalnya. Inflasi mencapai 80,7%, upah riil menurun hingga 40%, pengangguran mencapai 14%, dan 80,42% Rakyat hidup dalam kemiskinan. Pada saat terjadi kenaikan harga BBM ditahun dan bulan yang sama, Rakyat melakukan perlawanan, namun berhasil ditumpas oleh tentara. Menurut data organisasi HAM, kurang lebih 500 orang tewas terbunuh. Negara dikungkung oleh militerisme dan jam malam diberlakukan.

Alkisah, 7 tahun sebelum peristiwa Caracazo, Hugo Chávez bersama dengan 3 orang temannya (Felipe Acosta Carlos, Jesus Urdanesta Hernandes, Rafael Baduel) yang juga menjabat sebagai kapten membentuk Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200 (MBR 200). Mereka bersumpah dibawah Samán de Güere (tempat dimana Simon Bolivar dimakamkan). Dengan MBR 200 inilah Chávez memulai petualangan politiknya. Ditengah situasi perang gerilya sedang berlangsung, melihat praktek tentara negara dan gerilyawan membabi buta, Chávez menyadari bahwa sejatinya tentara harus mengabdi pada Rakyat. “Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan”. Disini ia menekankan hubungan yang kuat antara Rakyat dengan Tentara (militer-sipil). Melihat pembantaian 27 Februari tahun 1989 oleh militer dibawah komando Carlos Andrés Perés, MBR 200 menyadari bahwa mereka sudah sampai pada titik dimana MBR 200 tidak bisa mundur lagi dan harus angkat senjata (mereka tidak bisa terus mempertahankan rezim pembunuh). MBR 200 mempercepat kerja pengorganisirannya, pencarian kontak dari kalangan sipil dan gerakan Rakyat. Dalam penyusunan strategi perjuangan, MBR membentuk Front patriotik yang berisi kelompok intelektual, beberapa mereka adalah ahli hukum. Terinspirasi dari perjuangan Rakyat Kolumbia, MBR 200 menawarkan Majelis Konstituante sebagai jalan keluar dari jebakan demokrasi palsu. Propaganda tentang Majelis Konstituante dilakukan dari 1990 – 1991.   

4 februari 1992, Chávez memimpin pemberontakan militer terhadap rezim Carlos Andrés Perés. Chávez berhasil merebut barak tentara di Caracas namun gagal menguasai Istana Miraflores― Carlos Andrés Perés melarikan diri. Gerakan ini berhasil digagalkan. Chávez menyerah dan mengatakan bahwa ia bertanggung jawab atas peristiwa tersebut―disiarkan langsung oleh siaran TV nasional dari Kementrian Pertahanan. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan pemberontakan itu adalah berkhianatnya sebagian orang dariCausa R (salah satu partai di Venezuela) yang tidak muncul pada hari yang ditentukan. Awalnya Causa R sepakat untuk terlibat dan mendukung pemberontakan, dan MBR 200 memfasilitasi senjata untuk Rakyat. Namun beberapa hari sebelum terjadi pemberontakan, pimpinan nasional Causa R mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk menarik dukungan terhadap pemberontakan, dan yang lebih parah lagi adalah hasil keputusan itu tidak diberitahukan pada Chávez dan kawan-kawan. Setelah peristiwa ini, Chávez mendekam dalam penjara.

27 November 1992, terjadi pemberontakan susulan dari Angkatan Udara. Admiral Hernan Gruber Odreman bertanggung jawab atas tindakan itu. Gerakan ini juga mendapat dukungan dari jenrdral Fransisco Visconti (dari angkatan darat) dan Higinio Castro (dari angkatan udara) yang juga turut berpartisipasi, begitu juga dengan Chávez yang mendukung dari dalam penjara. Pemberontakan ini adalah gerakan yang tidak bisa terlibat pada 4 Februari dan melakukannya kemudian.

Dua pemberontakan ini telah menyatukan kekuatan militer, namun gerakan bersenjata tidak dapat menarik partisipasi Rakyat. Ada dukungan, namun gerakan Rakyat tidak terlibat aktif berpartisipasi mendukung perjuangan bersenjata. Hal ini dimungkinkan karena peristiwa perang gerilya yang cukup menelan banyak korban jiwa, sehingga tidak memungkinkan untuk memilih perjuangan bersenjata, banyak pimpinan MBR 200 dipennjara dan dipaksa mengundrkan diri. Setelah itu perjuangan Chávez mengesampingkan ide untuk melanjutkan perjuangan bersenjata. Chávez menyadari bahwa perjuangan tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kekuatan Rakyat secara aktif.

Setelah perlawanan 1989 dan pemberontakan 1992, Rakyat menyadari bahwa ada satu kekuatan (tentara) yang mendukung perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Nasional. Semenjak itu MBR 200 mengalami perubahan besar, yang awalnya masih kecil―terdiri dari gerakan bawah tanah militer, berisikan sekelompok perwira muda, segelintir Rakyat sipil dan segelintir kum kiri. Namun setelah itu, yang terjadi adalah sebuah ledakan emosi yang melebihi segalanya.

Selama dalam penjara, aktifitas perjuangan masih terus berlanjut, bahkan semakin maju. Bahwa dukungan Rakyat membutuhkan satu organisasi sebagai alat perjuangan, maka MBR 200 berpikir untuk membentuk komite-komite Bolivarian berupa kelompok kecil untuk melanjutkan aktifitas pengorganisiran dan memperluas kekuatan (meskipun dalam penjara). Kelompok ini adalah gerakan bawah tanah, karena pada saat itu mereka akan dianiaya jika tampil terbuka.

20 Mei 1993 (menjelang pemilu 1993), presiden Carlos Andrés Perés mendapat pemakzulan dari Mahkamah Agung dengan tuduhan penyalahgunaan dana publik. Carlos Andrés Perés berakhir dalam penjara dengan tuduhan korupsi. Hal tersebut adalah upaya untuk meredam kesadaran Rakyat yang awalnya untuk merubah sistem agar berbalik menjadi menjadi anggapan bahwa lembaga negara telah melakukan fungsinya dengan baik (dengan penangkapan Carlos Andrés Perés).

5 juni 1993, Ramon J Velasquez memimpin pemerintahan transisi mengantikan Carlos Andrés Perés. Siklus pemilihan umum dimulai, dari dalam penjara Chávez menyerukan untuk tidak memilih (abstain). Dalam situasi menuju pemilihan umum 5 Desember 1993, Causa R dan Rafael Caldera (kandidat yang berasal dari Partai Convergensia) berusaha memanfaatkan situasi setelah peristiwa Februari 1992 untuk mencari dukungan Rakyat yang sudah mulai mendukung Chávez. Causa R mengatakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya pada hari kudeta terjadi dan mengklaim bahwa beberapa perwira militer termasuk Chávez adalah salah satu dari anggota Partai Causa R. Adapun yang menjadi kandidat presiden adalah: Rafael Caldera yang didukung oleh MAS (Pergerakan Menuju Sosialisme), Andrés Velasquez dari partai Causa R, Eduardo Fernandez dari Partai COPEI dan Claudio Fermin dari partai AD (Acción Democrática). Pemilihan umum dimenangkan oleh Rafael Caldera, 52% Rakyat tidak memilih (abstain).

26 Maret 1993, setelah 26 bulan mendekam dalam pernjara, pemerintah Caldera memberi pengampunan pada Chávez dan kawan-kawannya. Caldera dan Chávez membuat kesepakatan bahwa pemimpin-pemimpin gerakan militer termasuk Chávez setuju untuk mengajukan pengunduran diri, dengan syarat beberapa orang tetap dibiarkan dalam tentara. Beberapa orang yang tetap tinggal ini masih melanjutkan kerja-kerja perjuangan didalam tentara.

1994 – 1995, MBR 200 mengelilingi seluruh pelosok negeri Venezuela dan berkunjung ke Kuba untuk terus mempropagandakan ide tentang pembentukan Majelis Konstituante pada Seluruh Rakyat serta terus melakukan pengorganisiran secara massif dengan membentuk komite-komite Bolivaria. Semenjak itu, MBR 200 beranjak dari organisasi militer klandestin (rahasia) menjadi Gerakan Rakyat. Selain itu, MBR 200 juga menyadari kebutuhan untuk membangun aliansi-aliansi dan membangun program kerja bersama termasuk Majelis Konstituante Kerakyatan. Program kerja tersebut disebut dengan “Organisasi Gerakan Kerakyatan”. Mereka juga membentuk satu program transisional jangka panjang secara nasional dengan menggunakan SDM yang ada seperti: Giordani (pakar ekonomi), Hector Navarro (ahli tehnik), Ciavaldini dan yang lainnya untuk membuat perencanaan strategi dan menghitung kemingkinan-kemungkinan dengan statistik!!

Sepanjang perjalanan mengelilingi seisi negeri, MBR 200 menyadari bahwa sebagian besar Rakyat tidak mendukung gerakan bersenjata dan kekerasan, namun Rakyat menginginkan agar MBR 200 mengorganisir sebuah gerakan politik yang terstruktur untuk mengambil alih negeri melalui jalur yang tepat. Ada beberapa soal lagi yang mesti dijawab, yaitu:
§  Apakah MBR 200 akan tetap mendukung abstain aktif dan menahan untuk tidak memasuki politik elektoral hingga saat yang tepat?
§  Apakah harus menunggu hingga mampu melakukan mobilisasi kekuatan-kekuatan sektor Rakyat yang beragan dan mengambil strategi perjuangan di luar dari pemilihan umum? Atau,
§  Sebagai jalan alternatif, mengikuti pemilihan umum dengan segera!!

Maka, MBR 200 mulai melakukan konsultasi dengan Rakyat melalui jajak pendapat dan melakukan pengorganisiran terhadap tim psikolog, sosiolog, profesor dan mahasiswa, bahkan berusaha mengintegrasikan orang-orang yang berada di luar gerakan MBR 200 untuk mempertahankan obyektifitas.

1996 – 1997, MBR 200 memutuskan untuk melakukan survei pada 100.000 orang dan membagi Venezuela menjadi tiga wilayah (timur, barat dan tengah). Survei itu mengajukan dua pertanyaan untuk analisa kuantitatif, yaitu:
§  “apakah anda mendukung Hugo Chávez menjadi kandidat presiden?”
Survei mengatakan: 70% berkata “YA” dan 30% berkata “TIDAK”
§  “apakah anda akan memilih Chávez?”
Survei mengatakan: 57% berkata “YA” dan 47% berkata “TIDAK”

Sampai tahun1996, masih terjadi perdebatan apakah akan mengikuti pemilihan umum atau tidak? MBR 200 menyadari bahwa dengan memilih jalan elektoral, itu bisa menjadi malapetaka, yaitu terperangkap dalam jebakan sistem dan terjebak dalam negosiasi dan kompromi.
19 April 1997, Majelis Nasional MBR 200 memutuskan untuk berpartisipasi pada pemilihan umum dan membentuk sebah partai politik yang sah/formal.
21 Oktober 1997, Partai The Fifth Republik Movement (MVR) atau Pergerakan Republik Kelima terbentuk. Disisi lain, Chávez mewarisi sisa-sisa kehancuran tata pemerintahan lama.
6 Desember 1998, Chávez memenangkan pemilihan Presiden dengan perolehan suara sebesar 56%.  Dibulan yang sama, harga minyak dunia jatuh menjadi US$ 7,6/barel dan hutang luar negeri mencapai US$ 23,440 miliar.
2-17 Februari 1999, Pemerintahan Chávez melalui Dewan Nasional Pemilihan melangsungkan referendum (meminta pendapat Rakyat agar mereka bisa bicara untuk diri mereka sendiri melalui lembaga-lembaga publik–menerima berbagai proposal tawaran Rakyat dan membuka terlepon bebas pulsa) megenai perlu tidaknya membentuk Majelis Konstituante. Akhirnya Majelis Konstituante sepakat untuk dibentuk walaupun ada penolakan dari pihak oposisi yang mengatakan “dengan Majelis konstituante, kita tidak makan, kita tidak membangun jalan raya dan kita tidak membangun rumah”. Sepanjang sejarah Venezuela, baru kali ini melangsungkan referendum.
25 April 1999, pemungutan suara untuk mengisi struktur Majelis Konstituante. Aliansi Polo Patrioco terbentuk – yang terdiri dari MVR (Gerakan Republik Kelima), PPT (Partai Tanah Air Untuk Semua), PCV (Partai Comunis Venezuela), MAS (Pergerakan Menuju Sosialisme), MEP (Gerakan Elektoral Rakyat). Polo Patrioco memenangkan 120 kursi dari 131. Kendati demikian, terjadi perselisihan antara MVR dan PPT, dimana Pablo Medina (sekretaris jendral PPT setelah perpecahan Causa R dan terlibat pada usaha kudeta 11 April 2002) tidak sepakat dengan kepemimpinan Chávez. Setelah Medina meninggalkan PPT, hubungan MVR dan PPT kembali berjalan baik bersama dengan Maria Christina Iglesias dan Aristobulo Isturiz.  Anggota Majelis Konstituante terpilih pada 25 Juli 1999 dan bersidang pada bulan Agustus dan Desember 1999 untuk menyimpulkan semua perdebatan tentang konstitusi, yang kemudian dipilih kembali melalui referendum.
15 Desember 1999, Konstitusi Baru disahkan melalui referendum nasional. Lebih dari 70% penduduk negeri menyatakan “YA” untuk konstitusi yang baru. Tantangan yang paling sulit adalah menghubungkan setiap ide dalam Konstitusi dengan realitas (eksekutif).
3 Juli 2000, Chávez mengeluarkan dekrit tentang kenaikan upah minimum menjadi 144.ooo Bolivares. Pada pemilihan Presiden tahun 2000, Chávez terpilih kembali dan memimpin Venezuela di bawah Konstitusi Baru. Namun Chávez masih dihadapkan dengan persoalan aparatus negara yang sejatinya sisa pemerintahan sebelumnya, yaitu persoalan korupsi didalam tubuh birokrasi borjuis.
30 Oktober 2000, Konvensi Kuba-Venezuela tentang minyak ditandatangani. Dilanjutkan dengan kunjungan Chávez di Rusia, Iran, Bangladesh, China dan Malaysia pada bulan April 2001.
17 Desember 2001, Chávez meluncurkan kembali MBR 200 dan Lingkaran Bolivarian disumpah untuk tetap mengabdi pada Rakyat.
11 April 2002, Kudeta yang dipimpin oleh partai politik sayap kanan, asosiasi bisnis dan beberapa perwira tinggi militer serta pimpinan serikat buruh. Pedro Carmona, Presiden Fedecámaras (Federasi industri rumah tangga, kecil, menengah dan besar Venezuela), mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden Venezuela dan menghapuskan lembaga-lembaga pemerintahan. Kudeta tersebut berupaya untuk menyerang pimpinan kelompok yang pro pada Chávez. Kelompok yang pro dengan kudeta menyerang kedutaan Kuba di Caracas.
13 April 2002, Mobilisasi Rakyat yang menolak kudeta terhadap Chávez terus membesar. Berbagai kelompok dalam militer mendeklarasikan dan menegaskan loyalitas mereka kepada Chávez. Di Maracay, Jendral Baduel yang memimpin Batalion Parasut mengutuk Kudeta. Rakyat tumpah ruah ke jalan dan mengerumuni baraknya. Di Caracas, Rakyat mengerumuni Pangkalan Militer Tiuna dan Jendral Garcia Carneiro bergabung bersama Rakyat dan menempatkan pasukan untuk membantu Rakyat yang mendukung Chávez. Kemungkinan terbesar apabila Chávez tidak dikembalikan di Istana Miraflores adalah perjuangan bersenjata dari Rakyat dan Tentara pendukung Chávez (satu perjuangan yang selama ini berusaha untuk hindari oleh Rakyat–bukan meniadakan perjuangan bersenjata).
14 April 2002, Dini hari, Chávez kembali pada posisinya sebagai Presiden Rakyat Venezuela setelah ditahan oleh kelompok yang sedang melancarkan aksi kudeta. Enam perwira Angkatan Darat dan Pedro Carmona ditangkap karena keterlibatannya dalam kudeta. Tidak lama setelah itu, Carmona dibebaskan dan menjadi tahanan rumah. Beberapa minggu kemudian ia menuju Kolombia tempat ia mendapatkan suaka.

Kita melihat, bahwa rangkaian perjuangan yang dilakukan oleh Rakyat venezuela yang dipimpin oleh Hugo Chávez tidaklah mudah. Bahwa perjuangan untuk mewujudkan sosialisme membutuhkan strategi perjuangan yang tepat dan didukung oleh Sumber Daya Manusia yang cerdas dan berkesadaran kolektif. Chávez yang sejatinya bukanlah seorang Marxis mampu membangun satu kekuatan Rakyat yang berhari depan. Chávez berhasil mendorong kesadaran kolektif Rakyat untuk melakukan Revolusi melalui jalan Elektoral yang sangat beresiko. Hal terakhir yang bisa aku katakan hanya “Revolusi Venezuela adalah Karya seni Rakyat”. Meskipun demikian, revolusi Rakyat Venezuela belumlah usai atau berakhir dengan terwujudnya Majelis Konstituante, itu bukanlah tujuan akhir. Masih banyak tuga revolusioner yang harus dituntaskan.

Dan bagi kaum kiri sedunia (terkhusus Indonesia), apa yang dikerjakan oleh Rakyat Venezuela untuk menghantam penetrasi kapitalisme membuktikan satu hal, BAHWA SOSIALISME ITU ADALAH SATU KENISCAYAAN!!! Bahwa KEKUASAAN KAUM MODAL dapat diruntuhkan dengan satu Gerakan yang terencana dan bersandar pada ilmu pengetahuan. Bagi Rakyat Indonesia, KUASA MODAL yang hari ini masih mencengkeram SDM dan SDA kita tidak akan membiarkan kita untuk menjadi bangsa yang merdeka. Selama kekuatan MODAL masih berkuasa di Bumi Indonesia, jangan pernah kita berharap untuk bisa mengembangkan alat produksi kita, jangan pernah kita berharap kita bisa menjadi bangsa yang cerdas untuk memajukan teknologi kita!!! Manakala kita menghimpun kekuatan proletariat kedalam satu alat perjuanganlah kita akan mampu menghempang kebiadaban MODAL dari tanah air kita. Harus kita akui, bahwa sosialisme tidak hanya sebatas tata kelola ekonomi semata, tidak sebatas pendirian pabrik-pabrik dan industri berat semata. Lebih dari itu adalah, SOSIALISME adalah sistem yang bertujuan untuk memajukan kemampuan manusia untuk bisa menjadi manusia yang merdeka dan mampu menjawab persoalan diri sendiri dan mengabdikan segenap kemampuannya untuk PERTUMBUHAN DAN KEBANGKITAN kekuatan kolektif.



Oleh Martin Luiz, Ketua Umum Serikat Mahasiswa Indonesia Periode 2013-2015


sumber: MEMAHAMI REVOLUSI VENEZUELA-Wawancara Marta Harnecker Dengan Hugo Chavez Frias

0 komentar:

Posting Komentar