Kapitalisme akan menggali liang kuburnya sendiri. Satu hukum
yang pasti bagi kapitalisme, dengan penguasaan atas alat produksi ditangan
segelintir orang (borjuasi) untuk menghisap nilai lebih (keringat dan darah)
dari kaum pekerja, spesialisasi kerja, penekanan biaya produksi telah mengorganisasikan
Rakyat menjadi satu kekuatan yang berhari depan dan siap meruntuhkan kekuasaan
modal untuk mendiri tegakkan tatanan sosial tanpa penghisapan manusia atas
manusia. Ya, satu analisa
Marx terhadap pertentangan dalam tubuh kapitalisme bahwa kelas Proletar dan
Borjuis tidak akan terdamaikan, salah satunya harus runtuh!!
Begitu juga yang terjadi di Venezuela, dimana presiden Rakyat
Venezuela (Hugo Chávez Frias) telah memberikan satu bentuk praktek perjuangan
Rakyat yang konkrit untuk menegakkan negara yang menjujung tinggi Rakyatnya (Sosialisme
Abad 21) bahkan terkesan
meruntuhkan mitos revolusi sosialis selama ini yang mengatakan bahwa kemenangan
Rakyat hanya bisa dicapai dengan jalan kekerasan―Chávez memilih jalan elektoral
(pemilu) untuk membentuk satu badan konstitusi yang berpihak pada Rakyat.
Disisi lain, revolusi Venezuela telah mematahkan serta mengubur dalam-dalam
kebohongan Invisible Hand untuk mensejahterakan umat manusia di bawah hegemoni kapitalisme
neoliberal yang biadab dan tidak manusiawi. Disini aku tidak bermaksud bahwa
apa yang terjadi di Venezuela bisa kita adopsi seutuhnya. Mungkin ini
subyektif, tapi bagi ku Inilah yang dimaksud dengan seni perjuangan
Rakyat―bahwa perjuangan untuk membebaskan Rakyat bisa dilakukan dengan berbagai
metode serta pilihan strategi dan taktik yang bersesuaian dengan keadaan.
Dengan memanfaatkan berbagai SDM dan teknologi yang ada, Chávez berhasil
menentukan pilihan strategi yang tepat!!
Syahdan, pada 27 Februari tahun 1989, tahun dimana kita mengenal peristiwa Caracazo.Ya, peristiwa “ledakan kemarahan” Rakyat
terhadap pemerintahan Carlos Andrés Perézyang baru naik tahta pada tanggal 2 Februari
1989. Kemarahan Rakyat dipicu oleh kebijakan pemerintah yang sejatinya
perpanjangan tangan negara imperialis Amerika melalui Structural
Adjusment Program (SAP) yang di gawangi oleh IMF. Kebijakan ini adalah bentuk Reformasi
Ekonomi Neoliberal yang mengakibatkan suku bunga mengambang, kenaikan pajak
pada sektor pelayanan publik,, penghapusan tarif impor secara progresif,
pengurangan 4 persen dalam defisit anggaran pendapatan dan belanja negara,
pelemahan buruh dengan sistem ikatan kerja yang lebih fleksibel, kenaikan upah
yang hanya 5% serta kenaikan harga secara nasional. Dekrit Eksekutif
mengijinkan perusahaan asing untuk membayarkan 100% keuntungan mereka ke negara
asalnya. Inflasi mencapai 80,7%, upah riil menurun hingga 40%, pengangguran
mencapai 14%, dan 80,42% Rakyat hidup dalam kemiskinan. Pada saat terjadi
kenaikan harga BBM ditahun dan bulan yang sama, Rakyat melakukan perlawanan,
namun berhasil ditumpas oleh tentara. Menurut data organisasi HAM, kurang lebih
500 orang tewas terbunuh. Negara dikungkung oleh militerisme dan jam malam
diberlakukan.
Alkisah, 7 tahun sebelum peristiwa Caracazo, Hugo Chávez bersama
dengan 3 orang temannya (Felipe Acosta Carlos, Jesus Urdanesta Hernandes,
Rafael Baduel) yang juga menjabat sebagai kapten membentuk Pergerakan
Revolusioner Bolivarian 200 (MBR 200). Mereka bersumpah dibawah Samán de
Güere (tempat dimana Simon Bolivar dimakamkan). Dengan MBR 200 inilah Chávez memulai
petualangan politiknya. Ditengah situasi perang gerilya sedang berlangsung,
melihat praktek tentara negara dan gerilyawan membabi buta, Chávez menyadari
bahwa sejatinya tentara harus mengabdi pada Rakyat. “Rakyat bagi tentara adalah
ibarat air bagi ikan”. Disini ia menekankan hubungan yang kuat antara Rakyat
dengan Tentara (militer-sipil). Melihat pembantaian 27 Februari tahun 1989 oleh
militer dibawah komando Carlos Andrés Perés, MBR 200 menyadari bahwa mereka
sudah sampai pada titik dimana MBR 200 tidak bisa mundur lagi dan harus angkat
senjata (mereka tidak bisa terus mempertahankan rezim pembunuh). MBR 200
mempercepat kerja pengorganisirannya, pencarian kontak dari kalangan sipil dan
gerakan Rakyat. Dalam penyusunan strategi perjuangan, MBR membentuk Front
patriotik yang berisi kelompok intelektual, beberapa mereka adalah ahli hukum.
Terinspirasi dari perjuangan Rakyat Kolumbia, MBR 200 menawarkan Majelis
Konstituante sebagai jalan keluar
dari jebakan demokrasi palsu. Propaganda tentang Majelis Konstituante dilakukan
dari 1990 – 1991.
4 februari 1992, Chávez memimpin pemberontakan militer
terhadap rezim Carlos Andrés Perés. Chávez berhasil merebut barak tentara di
Caracas namun
gagal menguasai Istana Miraflores― Carlos Andrés Perés melarikan diri. Gerakan ini berhasil
digagalkan. Chávez menyerah dan mengatakan bahwa ia bertanggung jawab atas
peristiwa tersebut―disiarkan langsung oleh siaran TV nasional dari Kementrian
Pertahanan. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan pemberontakan itu
adalah berkhianatnya sebagian orang dariCausa R (salah satu
partai di Venezuela) yang tidak muncul pada hari yang ditentukan. Awalnya Causa R
sepakat untuk terlibat dan mendukung pemberontakan, dan MBR 200 memfasilitasi
senjata untuk Rakyat. Namun beberapa hari sebelum terjadi pemberontakan,
pimpinan nasional Causa R mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk menarik
dukungan terhadap pemberontakan, dan yang lebih parah lagi adalah hasil
keputusan itu tidak diberitahukan pada Chávez dan kawan-kawan. Setelah
peristiwa ini, Chávez mendekam dalam penjara.
27 November 1992, terjadi pemberontakan susulan dari Angkatan
Udara. Admiral Hernan Gruber Odreman bertanggung jawab atas tindakan itu.
Gerakan ini juga mendapat dukungan dari jenrdral Fransisco Visconti (dari
angkatan darat) dan Higinio Castro (dari angkatan udara) yang juga turut
berpartisipasi, begitu juga dengan Chávez yang mendukung dari dalam penjara.
Pemberontakan ini adalah gerakan yang tidak bisa terlibat pada 4 Februari dan
melakukannya kemudian.
Dua pemberontakan ini telah menyatukan kekuatan militer, namun
gerakan bersenjata tidak dapat menarik partisipasi Rakyat. Ada dukungan, namun
gerakan Rakyat tidak terlibat aktif berpartisipasi mendukung perjuangan
bersenjata. Hal ini dimungkinkan karena peristiwa perang gerilya yang cukup
menelan banyak korban jiwa, sehingga tidak memungkinkan untuk memilih
perjuangan bersenjata, banyak pimpinan MBR 200 dipennjara dan dipaksa
mengundrkan diri. Setelah itu perjuangan Chávez mengesampingkan ide untuk
melanjutkan perjuangan bersenjata. Chávez menyadari bahwa perjuangan tidak akan
berhasil tanpa dukungan dan kekuatan Rakyat secara aktif.
Setelah perlawanan 1989 dan pemberontakan 1992, Rakyat menyadari
bahwa ada satu kekuatan (tentara) yang mendukung perjuangan Rakyat untuk
Pembebasan Nasional. Semenjak itu MBR 200 mengalami perubahan besar, yang
awalnya masih kecil―terdiri dari gerakan bawah tanah militer, berisikan
sekelompok perwira muda, segelintir Rakyat sipil dan segelintir kum kiri. Namun
setelah itu, yang terjadi adalah sebuah ledakan emosi yang melebihi segalanya.
Selama dalam penjara, aktifitas perjuangan masih terus
berlanjut, bahkan semakin maju. Bahwa dukungan Rakyat membutuhkan satu
organisasi sebagai alat perjuangan, maka MBR 200 berpikir untuk membentuk
komite-komite Bolivarian berupa kelompok kecil untuk melanjutkan aktifitas
pengorganisiran dan memperluas kekuatan (meskipun dalam penjara). Kelompok ini
adalah gerakan bawah tanah, karena pada saat itu mereka akan dianiaya jika
tampil terbuka.
20 Mei 1993 (menjelang pemilu 1993), presiden Carlos Andrés Perés mendapat pemakzulan dari Mahkamah Agung dengan
tuduhan penyalahgunaan dana publik. Carlos Andrés Perés berakhir dalam penjara
dengan tuduhan korupsi. Hal tersebut adalah upaya untuk meredam kesadaran
Rakyat yang awalnya untuk merubah sistem agar berbalik menjadi menjadi anggapan
bahwa lembaga negara telah melakukan fungsinya dengan baik (dengan penangkapan Carlos
Andrés Perés).
5 juni 1993, Ramon J Velasquez memimpin pemerintahan transisi mengantikan
Carlos Andrés Perés. Siklus pemilihan umum dimulai, dari dalam penjara Chávez
menyerukan untuk tidak memilih (abstain). Dalam situasi menuju pemilihan umum 5
Desember 1993, Causa R dan Rafael Caldera (kandidat yang berasal dari Partai Convergensia) berusaha memanfaatkan situasi setelah
peristiwa Februari 1992 untuk mencari dukungan Rakyat yang sudah mulai
mendukung Chávez. Causa R mengatakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya pada
hari kudeta terjadi dan mengklaim bahwa beberapa perwira militer termasuk
Chávez adalah salah satu dari anggota Partai Causa R. Adapun yang menjadi
kandidat presiden adalah: Rafael Caldera yang didukung oleh MAS (Pergerakan
Menuju Sosialisme), Andrés
Velasquez dari partai Causa R, Eduardo Fernandez dari Partai COPEI dan Claudio Fermin dari partai AD (Acción
Democrática). Pemilihan umum
dimenangkan oleh Rafael Caldera, 52% Rakyat tidak memilih (abstain).
26 Maret 1993, setelah 26 bulan mendekam dalam pernjara,
pemerintah Caldera memberi pengampunan pada Chávez dan kawan-kawannya. Caldera
dan Chávez membuat kesepakatan bahwa pemimpin-pemimpin gerakan militer termasuk
Chávez setuju untuk mengajukan pengunduran diri, dengan syarat beberapa orang
tetap dibiarkan dalam tentara. Beberapa orang yang tetap tinggal ini masih
melanjutkan kerja-kerja perjuangan didalam tentara.
1994 – 1995, MBR 200 mengelilingi seluruh pelosok negeri
Venezuela dan berkunjung ke Kuba untuk terus mempropagandakan ide tentang
pembentukan Majelis Konstituante pada Seluruh Rakyat serta terus melakukan
pengorganisiran secara massif dengan membentuk komite-komite Bolivaria.
Semenjak itu, MBR 200 beranjak dari organisasi militer klandestin (rahasia)
menjadi Gerakan Rakyat. Selain itu, MBR 200 juga menyadari kebutuhan untuk membangun
aliansi-aliansi dan membangun program kerja bersama termasuk Majelis
Konstituante Kerakyatan. Program kerja tersebut disebut dengan “Organisasi
Gerakan Kerakyatan”. Mereka juga membentuk satu program transisional
jangka panjang secara nasional dengan menggunakan SDM yang ada seperti:
Giordani (pakar ekonomi), Hector Navarro (ahli tehnik), Ciavaldini dan yang
lainnya untuk membuat perencanaan strategi dan menghitung
kemingkinan-kemungkinan dengan statistik!!
Sepanjang perjalanan mengelilingi seisi negeri, MBR 200
menyadari bahwa sebagian besar Rakyat tidak mendukung gerakan bersenjata dan
kekerasan, namun Rakyat menginginkan agar MBR 200 mengorganisir sebuah gerakan
politik yang terstruktur untuk mengambil alih negeri melalui jalur yang tepat.
Ada beberapa soal lagi yang mesti dijawab, yaitu:
§ Apakah MBR 200 akan tetap mendukung abstain
aktif dan menahan untuk tidak memasuki politik elektoral hingga saat yang
tepat?
§ Apakah harus menunggu hingga mampu melakukan
mobilisasi kekuatan-kekuatan sektor Rakyat yang beragan dan mengambil strategi
perjuangan di luar dari pemilihan umum? Atau,
§ Sebagai jalan alternatif, mengikuti pemilihan
umum dengan segera!!
Maka, MBR 200 mulai melakukan konsultasi dengan Rakyat melalui
jajak pendapat dan melakukan pengorganisiran terhadap tim psikolog, sosiolog,
profesor dan mahasiswa, bahkan berusaha mengintegrasikan orang-orang yang
berada di luar gerakan MBR 200 untuk mempertahankan obyektifitas.
1996 – 1997, MBR 200 memutuskan untuk melakukan survei pada
100.000 orang dan membagi Venezuela menjadi tiga wilayah (timur, barat dan
tengah). Survei itu mengajukan dua pertanyaan untuk analisa kuantitatif, yaitu:
§ “apakah anda mendukung Hugo Chávez menjadi
kandidat presiden?”
Survei mengatakan: 70% berkata “YA” dan 30% berkata “TIDAK”
§ “apakah anda akan memilih Chávez?”
Survei mengatakan: 57% berkata “YA” dan 47% berkata “TIDAK”
Sampai tahun1996, masih terjadi perdebatan apakah akan mengikuti
pemilihan umum atau tidak? MBR 200 menyadari bahwa dengan memilih jalan
elektoral, itu bisa menjadi malapetaka, yaitu terperangkap dalam jebakan sistem
dan terjebak dalam negosiasi dan kompromi.
19 April 1997, Majelis Nasional MBR 200 memutuskan untuk
berpartisipasi pada pemilihan umum dan membentuk sebah partai politik yang
sah/formal.
21 Oktober
1997, Partai The
Fifth Republik Movement (MVR) atau Pergerakan Republik Kelima terbentuk. Disisi lain, Chávez mewarisi sisa-sisa
kehancuran tata pemerintahan lama.
6 Desember 1998, Chávez memenangkan pemilihan Presiden dengan
perolehan suara sebesar 56%. Dibulan yang sama, harga minyak dunia jatuh
menjadi US$ 7,6/barel dan hutang luar negeri mencapai US$ 23,440 miliar.
2-17 Februari 1999, Pemerintahan Chávez melalui Dewan Nasional
Pemilihan melangsungkan referendum (meminta pendapat Rakyat agar mereka bisa
bicara untuk diri mereka sendiri melalui lembaga-lembaga publik–menerima
berbagai proposal tawaran Rakyat dan membuka terlepon bebas pulsa) megenai
perlu tidaknya membentuk Majelis Konstituante. Akhirnya Majelis Konstituante
sepakat untuk dibentuk walaupun ada penolakan dari pihak oposisi yang
mengatakan “dengan Majelis konstituante, kita tidak makan, kita tidak membangun
jalan raya dan kita tidak membangun rumah”. Sepanjang sejarah Venezuela, baru
kali ini melangsungkan referendum.
25 April 1999, pemungutan suara untuk mengisi struktur
Majelis Konstituante. Aliansi Polo Patrioco terbentuk – yang terdiri dari MVR (Gerakan Republik
Kelima), PPT (Partai Tanah Air Untuk Semua), PCV (Partai Comunis Venezuela),
MAS (Pergerakan Menuju Sosialisme), MEP (Gerakan Elektoral Rakyat). Polo
Patrioco memenangkan 120 kursi dari 131. Kendati demikian, terjadi perselisihan
antara MVR dan PPT, dimana Pablo Medina (sekretaris jendral PPT setelah
perpecahan Causa R dan terlibat pada usaha kudeta 11 April 2002) tidak sepakat
dengan kepemimpinan Chávez. Setelah Medina meninggalkan PPT, hubungan MVR dan
PPT kembali berjalan baik bersama dengan Maria Christina Iglesias dan
Aristobulo Isturiz. Anggota Majelis Konstituante terpilih pada 25 Juli
1999 dan bersidang pada bulan Agustus dan Desember 1999 untuk menyimpulkan
semua perdebatan tentang konstitusi, yang kemudian dipilih kembali melalui referendum.
15 Desember 1999, Konstitusi Baru disahkan melalui referendum
nasional. Lebih dari 70% penduduk negeri menyatakan “YA” untuk konstitusi yang
baru. Tantangan yang paling sulit adalah menghubungkan setiap ide dalam
Konstitusi dengan realitas (eksekutif).
3 Juli 2000, Chávez mengeluarkan dekrit tentang kenaikan upah minimum
menjadi 144.ooo Bolivares. Pada pemilihan Presiden tahun 2000, Chávez terpilih
kembali dan memimpin Venezuela di bawah Konstitusi Baru. Namun Chávez masih
dihadapkan dengan persoalan aparatus negara yang sejatinya sisa pemerintahan
sebelumnya, yaitu persoalan korupsi didalam tubuh birokrasi borjuis.
30 Oktober 2000, Konvensi Kuba-Venezuela tentang minyak
ditandatangani. Dilanjutkan dengan kunjungan Chávez di Rusia, Iran, Bangladesh,
China dan Malaysia pada bulan April 2001.
17 Desember 2001, Chávez meluncurkan kembali MBR 200 dan
Lingkaran Bolivarian disumpah untuk tetap mengabdi pada Rakyat.
11 April 2002, Kudeta yang dipimpin oleh partai politik
sayap kanan, asosiasi bisnis dan beberapa perwira tinggi militer serta pimpinan
serikat buruh. Pedro Carmona, Presiden Fedecámaras (Federasi industri rumah tangga, kecil,
menengah dan besar Venezuela), mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden
Venezuela dan menghapuskan lembaga-lembaga pemerintahan. Kudeta tersebut
berupaya untuk menyerang pimpinan kelompok yang pro pada Chávez. Kelompok yang
pro dengan kudeta menyerang kedutaan Kuba di Caracas.
13 April 2002, Mobilisasi Rakyat yang menolak kudeta
terhadap Chávez terus membesar. Berbagai kelompok dalam militer mendeklarasikan
dan menegaskan loyalitas mereka kepada Chávez. Di Maracay, Jendral Baduel yang
memimpin Batalion Parasut mengutuk Kudeta. Rakyat tumpah ruah ke jalan dan
mengerumuni baraknya. Di Caracas, Rakyat mengerumuni Pangkalan Militer Tiuna
dan Jendral Garcia Carneiro bergabung bersama Rakyat dan menempatkan pasukan
untuk membantu Rakyat yang mendukung Chávez. Kemungkinan terbesar apabila
Chávez tidak dikembalikan di Istana Miraflores adalah perjuangan bersenjata
dari Rakyat dan Tentara pendukung Chávez (satu perjuangan yang selama ini
berusaha untuk hindari oleh Rakyat–bukan meniadakan perjuangan bersenjata).
14 April 2002, Dini hari, Chávez kembali pada posisinya
sebagai Presiden Rakyat Venezuela setelah ditahan oleh kelompok yang sedang
melancarkan aksi kudeta. Enam perwira Angkatan Darat dan Pedro Carmona
ditangkap karena keterlibatannya dalam kudeta. Tidak lama setelah itu, Carmona
dibebaskan dan menjadi tahanan rumah. Beberapa minggu kemudian ia menuju
Kolombia tempat ia mendapatkan suaka.
Kita melihat, bahwa rangkaian perjuangan yang dilakukan oleh Rakyat venezuela
yang dipimpin oleh Hugo Chávez tidaklah mudah. Bahwa perjuangan untuk
mewujudkan sosialisme membutuhkan strategi perjuangan yang tepat dan didukung
oleh Sumber Daya Manusia yang cerdas dan berkesadaran kolektif. Chávez yang
sejatinya bukanlah seorang Marxis mampu membangun satu kekuatan Rakyat yang
berhari depan. Chávez berhasil mendorong kesadaran kolektif Rakyat untuk
melakukan Revolusi melalui jalan Elektoral yang sangat beresiko. Hal terakhir
yang bisa aku katakan hanya “Revolusi Venezuela adalah Karya seni Rakyat”.
Meskipun demikian, revolusi Rakyat Venezuela belumlah usai atau berakhir dengan
terwujudnya Majelis Konstituante, itu bukanlah tujuan akhir. Masih banyak tuga
revolusioner yang harus dituntaskan.
Dan bagi kaum kiri sedunia (terkhusus Indonesia), apa yang dikerjakan oleh
Rakyat Venezuela untuk menghantam penetrasi kapitalisme membuktikan satu hal,
BAHWA SOSIALISME ITU ADALAH SATU KENISCAYAAN!!! Bahwa KEKUASAAN KAUM MODAL
dapat diruntuhkan dengan satu Gerakan yang terencana dan bersandar pada ilmu
pengetahuan. Bagi Rakyat Indonesia, KUASA MODAL yang hari ini masih
mencengkeram SDM dan SDA kita tidak akan membiarkan kita untuk menjadi bangsa
yang merdeka. Selama kekuatan MODAL masih berkuasa di Bumi Indonesia, jangan
pernah kita berharap untuk bisa mengembangkan alat produksi kita, jangan pernah
kita berharap kita bisa menjadi bangsa yang cerdas untuk memajukan teknologi
kita!!! Manakala kita menghimpun kekuatan proletariat kedalam satu alat
perjuanganlah kita akan mampu menghempang kebiadaban MODAL dari tanah air kita.
Harus kita akui, bahwa sosialisme tidak hanya sebatas tata kelola ekonomi
semata, tidak sebatas pendirian pabrik-pabrik dan industri berat semata. Lebih
dari itu adalah, SOSIALISME adalah sistem yang bertujuan untuk memajukan
kemampuan manusia untuk bisa menjadi manusia yang merdeka dan mampu menjawab
persoalan diri sendiri dan mengabdikan segenap kemampuannya untuk PERTUMBUHAN DAN
KEBANGKITAN kekuatan kolektif.
Oleh Martin Luiz, Ketua Umum Serikat Mahasiswa Indonesia Periode 2013-2015
sumber: MEMAHAMI
REVOLUSI VENEZUELA-Wawancara Marta Harnecker Dengan Hugo Chavez Frias




0 komentar:
Posting Komentar