Translate

Jumat, 26 Desember 2014

Azas-Azas Gerakan

DASAR-DASAR SPIRITUALITAS GERAKAN
Suatu Pengantar Menuju Pemahaman Esensi Gerakan
Sebagai Konsepsi Hidup

Oleh : Thoib Subhanto (Simbah)


Hakekat hidup adalah perlawanan. Hakekat perlawanan adalah kesabaran. Aku dan kawan-kawanku menyebutnya, KESABARAN REVOLUSIONER” (Simbah : 1998)



Pengantar

Tulisan ini tidak lebih dari sekedar buah refleksi dan merupakan akumulasi pergulatan batin yang pernah penulis hadapi, terutama setelah penulis memaknai gerakan sebagai konsepsi hidup. Gerakan sebagai konsepsi hidup adalah makna filosofis dari hakekat hidup itu sendiri. Bagi penulis, hakekat hidup adalah “gerak” dan hakekat mati adalah “diam”. “Gerak” di sini diartikan sebagai sesuatu yang aktif dan “diam” diartikan sebagai sesuatu yang pasif. Oleh karenanya segala sesuatu yang “bergerak” berarti hidup (dalam pengertian aktif) dan segala sesuatu yang “diam” berarti mati (dalam pengertian pasif). Dalam logika selanjutnya diperoleh suatu pemahaman, bahwa jika sesuatu itu awal mulanya “diam” lalu menjadi “bergerak” berarti sesuatu itu telah hidup (aktif). Begitupun sebaliknya, jika sesuatu itu awal mulanya “bergerak” lalu menjadi “diam” berarti sesuatu itu telah mati (pasif).
Adapun maksud dikemukakan tulisan ini tidak lebih dari sekedar mengajak para budiman untuk berefleksi bersama-sama tentang suatu esensi (makna dasar) gerakan sebagai konsepsi hidup. Setidaknya terdapat tiga pokok masalah yang penting untuk didiskusikan dalam refleksi ini, yakni : (1) Apa makna dasar gerakan; (2) Mengapa gerakan dimaknai sebagai konsepsi hidup; dan (3) Bagaimana manifestasi makna gerakan sebagai konsepsi hidup di dalam realitas hidup itu sendiri. Dengan mendiskusikan ketiga pokok masalah ini mudah-mudahan akan diperoleh pemahaman secara lebih mendalam tentang dasar-dasar spiritualitas dalam dunia gerakan.

Esensi Gerakan
Secara sederhana penulis memahami gerakan dalam tiga esensi, yakni esensi filosofis, esensi ideologis, dan esensi politis. Ketiga esensi gerakan ini bersifat integral, komplementer dan strategis, saling melengkapi dan saling mengisi. Ketiadaan salah satu esensi akan berakibat fatal bagi kerja-kerja gerakan dan juga bagi subyek (pelaku; aktifis) gerakan, baik secara personal maupun kolektif.

Esensi Filosofis : Gerakan secara filosofis bermakna “perlawanan”. Secara material berarti setiap kerja gerakan adalah manifestasi suatu perlawanan. Perlawanan hanya dapat diwujudkan dengan adanya gerakan. Perlawanan tidak akan menjadi fakta sosial jika sekedar dalam pikiran, tersembunyi di dalam jiwa yang diam; kalaupun disebut perlawanan, maka sesungguhnya yang demikian itu adalah selemah-lemahnya perlawanan. Perlawanan yang terdapat dalam pikiran (ide, gagasan dan konsep) dan dalam jiwa (semangat; emosional), agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat mesti dimaterialisasikan ke permukaan realitas; gerakan adalah realitas sosial.

Esensi Ideologis : Gerakan secara ideologis bermakna “keyakinan”. Secara material berarti setiap kerja gerakan adalah manifestasi suatu keyakinan ideologis. Konstruksi keyakinan ideologis akan membentuk orientasi (visi-misi : cita-cita strategis) suatu gerakan. Tanpa konstruksi keyakinan ideologis yang jelas, maka setiap kerja gerakan akan menemukan kesulitan dalam menentukan orientasi gerakannya; merumuskan visi-misi. Konstruksi keyakinan ideologislah yang akan menentukan bentuk orientasi suatu kerja gerakan.

Esensi Politis : Gerakan secara politis bermakna “cita-cita dan cara mencapai cita-cita”. Secara material berarti setiap kerja gerakan adalah manifestasi suatu cita-cita dan cara mencapai cita-cita. Tegasnya, tiada gerakan tanpa cita-cita dan cara mencapai cita-cita. Dari ketiga esensi gerakan tersebut di atas dapat ditarik suatu benang merah bahwa suatu gerakan itu akan bermakna secara mendasar apabila gerakan benar-benar merupakan manifestasi dari esensi filosofis, ideologis, dan politis. Dengan pengertian lain, gerakan yang benar adalah gerakan yang di dalamnya terdapat makna perlawanan, keyakinan ideologis, cita-cita dan cara mencapai cita-cita. Gerakan yang meninggalkan salah satu makna dari ketiga makna tersebut akan mengakibatkan kerja-kerja gerakan menjadi pincang, labil, tidak terkendali, reaksioner, dan bahkan anarkis.

Gerakan Sebagai Konsepsi Hidup
Di atas telah diuraikan tiga esensi gerakan. Berdasarkan ketiga esensi itu, gerakan sebagai konsepsi hidup dapat kita artikan sebagai berikut :

Pertama : Hidup berarti manifestasi semangat perlawanan. Dengan demikian hakekat hidup adalah perlawanan. Secara material setiap manusia baik secara individu maupun kelompok hidup dalam realitas konflik dan oleh karenanya ia harus melakukan perlawanan di dalam hidupnya. Jika manusia tidak melakukan perlawanan maka ia tidak akan bertahan lama dalam hidupnya.

Kedua : Hidup berarti manifestasi keyakinan ideologis. Dengan demikian hakekat hidup adalah berkeyakinan secara ideologis. Tanpa suatu keyakinan ideologis, hidup manusia baik secara individu maupun kelompok akan terombang-ambing oleh arus kehidupan yang tidak pasti, tidak jelas dan semu. Dalam hidupnya manusia mesti memiliki keyakinan ideologis, sebab dengannya ia akan mampu menatap dan meraih masa depannya.

Ketiga : Hidup berarti manifestasi cita-cita dan cara mencapai cita-cita. Dengan demikian hakekat hidup adalah bercita-cita dan memilih cara untuk mencapai cita-cita. Setiap manusia baik secara individu maupun kelompok pada umumnya memiliki cita-cita yang sama (hidup makmur, sejahtera, bahagia, adil, aman, dan lain sebagainya), namun tidak semua mereka menentukan pilihan cara yang sama dalam mencapai cita-cita nya.

Spiritualitas Gerakan : Suatu Pemahaman Awal
Setelah kita memahami apa esensi gerakan dan gerakan sebagai konsepsi hidup sebagaimana diuraikan di atas, kini tiba gilirannya kita mendiskusikan dan sekaligus mengembangkan suatu pemahaman awal tentang dasar-dasar spiritualitas gerakan. Berangkat dari tiga esensi gerakan dan gerakan sebagai konsepsi hidup, maka diskusi kita tentang dasar-dasar spiritualitas gerakan akan kita bahas melalui tiga pertanyaan penting, yakni : (1) Apa hakekat perlawanan; (2) Apa hakekat keyakinan ideologis; dan (3) Apa hakekat cita-cita dan cara mencapai cita-cita.

Hakekat Perlawanan : Secara ringkas dan sederhana dapat dijelaskan di sini bahwa hakekat perlawanan adalah kesabaran. Sebagian orang mungkin akan mencibir dan sebagiannya lagi akan menyatakan keheranannya, “bagaimana mungkin perlawanan itu pada hakekatnya adalah kesabaran, sedangkan perlawanan dan kesabaran bersifat antagonis?
Mungkin saja benar bahwa antara perlawanan dan kesabaran itu bersifat antagonis, tetapi jika dipahami secara lebih mendalam tentu saja pemaknaannya tidak sesempit itu. Perlawanan antagonis dengan kesabaran merupakan pemaknaan yang sempit, pemaknaan seperti ini semata-mata disandarkan pada prasangka-prasangka atas fakta-fakta yang lebih bersifat kasuistik, sepihak dan temporer.
Jika perlawanan itu antagonis dengan kesabaran, padahal kesabaran melahirkan cinta, bukankah selama ini para pejuang kemanusiaan, para pembela orang-orang tertindas, dan para pembela nasib rakyat kecil melakukan perlawanan terhadap berbagai praktek penindasan semata-mata atas dasar cinta? Karena kecintaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebenaranlah maka mereka melakukan perlawanan. Bahkan dalam realitasnya kesabaran mereka untuk terus melawan telah teruji dalam dialektika sejarah perlawanan rakyat di negeri ini.
Dari ulasan di atas dapatlah kita pahami bahwa hakekat perlawanan adalah kesabaran dan kesabaran melahirkan cinta. Berarti perlawanan lahir karena cinta, bukan karena kebencian. Perlawanan yang dilandasi kebencian, bukan karena cinta, bukanlah perlawanan sejati. Perlawanan seperti itu hanya akan menimbulkan anarki dan kehancuran, bukan kemenangan.

Hakekat Keyakinan : Secara sederhana akan dikemukakan bahwa hakekat keyakinan adalah kesadaran universal dan transendental. Kesadaran universal adalah suatu konstruksi kesadaran akan nilai-nilai universal yang terdapat dalam kehidupan, seperti nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kemerdekaan hak azasi, dan lain sebagainya. Sedangkan kesadaran transendental adalah suatu konstruksi kesadaran tentang adanya kekuatan mutlak dan tunggal yang menjadi pusat sistem kehidupan manusia dan alam semesta. Kepada-Nya segala sesuatu sistem tata kehidupan ini bergantung. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk orientasi ideologis seseorang dan meletakkannya sebagai sesuatu yang fundamental dalam hidupnya.
Sebagian orang seringkali keliru dan terjebak kepada logika yang salah, pilihan ideologi ditetapkan tanpa terlebih dahulu membangun kesadaran universal dan transendental. Celakanya kesadaran universal dan transendental justeru dibangun setelah pilihan ideologi ditetapkan dalam diri dan kehidupannya.

Hakekat Cita-cita dan Cara Mencapai Cita-cita : Secara sederhana dapat kita artikan bahwa hakekat cita-cita dan cara mencapai cita-cita adalah pengharapan dan pilihan sadar untuk memenuhi pengharapan itu. Pengharapan adalah cermin dari kesadaran setiap orang atas sesuatu yang jauh dan oleh karenanya ia berusaha menempuhi dan berhasrat sampai pada sesuatu itu. Pilihan sadar untuk memenuhi pengharapan itu adalah materialisasi kongkret berupa ruang dan waktu yang secara sadar dipilih sebagai alat untuk mencapainya. Tiada tercapai suatu pengharapan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Dua kata terakhir inilah yang disebut sebagai materialisasi kongkret dari pilihan ruang dan waktu. Karena ia tersekat oleh ruang dan waktu, maka sifatnya relatif dan oleh karenanya sewaktu-waktu dapat saja berubah sesuatu dengan tuntutan kebutuhan.

Penutup
Demikianlah tulisan ini dikemukakan, sekedar sebagai bahan refleksi bersama. Tulisan ini masih sangat terbuka untuk didiskusikan dan bahkan diperdebatkan. Walaupun demikian penulis berharap sedikit banyak tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja, khususnya bagi mereka yang hingga saat ini sedang dan atau akan mulai menekuni dunia gerakan, baik dalam konteks gerakan sosial, gerakan kebudayaan, gerakan politik, dan lain sebagainya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati kita semua. Selamat berdiskusi!.



Thoib Subhanto (Simbah)
Pemerhati masalah sosial, politik dan kebudayaan.
Mantan Dosen Sosiologi pada Universitas Widya Mataram Yogyakarta.


Kini bekerja sebagai praktisi pemberdayaan masyarakat dan tinggal di Asahan Sumatera Utara.

0 komentar:

Posting Komentar