Sang Kartini
Belasan tahun sebelum Budi Utomo hadir, Kartini yang manis itu
telah menulis surat-suratnya. Menyala-nyala dengan cita-cita dan keinginan
untuk belajar dan bebas, kartini harus menerima kenyataan hanya disekolahkan
hingga usia 12 tahun. Bahasa belanda telah dikuasai, maka energi, gairah,
kekecewaan dan angan-angannya disalurkan lewat surat-suratnya—yang
mengejutkan—begitu indah dan puitis. Berbagai literatur yang memuat tulisan
tentang Kartini menyatakan bahwa, gagasan-gagasan utama Kartini adalah
meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan, baik dari kalangan miskin maupun
atas, serta reformasi sistem perkawinan, dalam hal ini menolak poligami yang
dianggap merendahkan perempuan. Namun dalam Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya tergambar bahwa
gagasan dan cita-cita Kartini lebih dalam. Lebih tinggi dan lebih luas daripada
sekedar mencerdaskan kaum perempuan dan memperjuangkan monogami (meskipun hal
ini sentral dari praktek perjuangan). Kartini, bagi Pram adalah feminis yang
anti kolonialis dan anti feodalisme. Hingga ketulang sum-sumnya.
Surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, seorang feminis sosialis dari belanda,
banyak yang telah dihancurkan. Justru percakapan tertulis dengan Stella-lah
yang banyak membuka mata dan hati kartini terhadap masalah perempuan dan
pembebasannya. Juga memahat secara perlahan-lahan penolakan akan dominasi
golongan feodal terhadap rakyat kecil. Surat kartini yang secara khusus
membahas buku AugusteBebel de Vrouw en Sosialisme dihapus oleh Abendanon karena kepentingan kolonialnya. Kartini banyak
menerima buku-buku progresif semacam ini dari sahabatnya H.H van kol, seorang sosialis demokrat anggota Tweede Kamer. Mungkin dari surat-surat itu, gambaran yang
lebih utuh tentang pikiran-pikiran politik putri jepara yang tak ingin
dipanggil dengan gelarnya itu, bisa lebih utuh. Pram mampu memberikan
perimbangan kepada distorsi yang telah merajalela selama ini terhadap sosok
kartini—mulai dari mitosisasi Kartini, hingga reduksi terhadap
gagasan-gagasannya.
Satu hal yang juga perlu dicatat adalah saat Kartini menulis
suratnya, sentimen nasionalisme yang terorganisir belim muncul. Organisasi
pertama kaum buruh SS Bond, baru hadir tahun 1905, setahun setelah kematian Kartini.
Tradisi menggunakan media surat kabar dan terbitan untuk menyebarluaskan
propaganda, belum timbul. Karya jurnalisme awal dari sang pemula (Tirto Adhi Suryo), Medan Prijaji, baru terbit tahun 1906. referensi dari
gagasan-gagasan orisinil Kartini berasal dari berbagai literatur berbahasa
belanda yang dibaca kartini dalam masa pingitannya, serta korespondensinya
dengan khususnya Stella.. adalah satu hal luar biasa bahwa kartini yang sendirian,
terisolasi dan merasa sunyi itu mampu membangun satu gagasan politik yang
progresif untuk zamannya, baik menyangkut kaum perempuan maupun para kawula
miskin tanah jajahan. Gagasan-gagasan ini lalu diikuti oleh beberapa tokoh
perempuan lainnya, seperti dewi sartika dan Rohina Kudus. Namun, Kartini
tetaplah Sang Pemula, yang mengawali seluruh tradisi intlektual Gerakan
Perempuan Indonesia, berikut gagasan paling awal dalam melihat ketertindasan
rakyat dibawah feodalisme dan kapitalisme. Nasib tragis Kartini menjadi salah
satu petunjuk bahwa tak ada jalan baginya untuk membangun perjuangan dengan
cara lain yang lebih kuat dan efektif. Zaman berorganisasi belum terbit.
Pembebasan Nasional
Alangkah besarnya sumbangan yang diberikan oleh Gerakan
Pembebasan Nasional kepada perkembangan gerakan perempuan. Disatu sisi,
berbagai oarganisasi nasional maupun partai politik saat itu berupaya membangun
sayap perempuannya sendiri, ataupun mendukung dan didukung oleh perjuangan
perempuan disatu sektor atau kelas tertentu. Disisi lain, perkembangan gerakan
berbasis agama seperti muhammadiyah, turut pula membentuk polarisasi dalam
gerakan perempuan. Berbagai jurnalisme pun bertebaran, bukan hanya dalam
belanda, tetapi terutama dalam bahasa melayu. Gairah nasionalisme tengah
mencari jalan memodernisasi dirinya.
Saat Sarekat Dagang Islam mengubah namanya menjadi Sarekat
Islam, bulan september 1912, maka watak organisasi pun berubah. Dari yang
semula didominasi oleh kaum borjuis kecil pedagang batik kelontong Solo dan
sekitarnya yang mengorganisir diri untuk menghadapi pedagang Cina, kini
keanggotaanya menjadi lebih massif, lebih terbuka, dan konsekuensinya, lebih
politis. Alasan-alasan komersial yang melandasi pendiriannya dulu telah
memudar, karena muncul kebutuhan rakyat jajahan, khususnya di pedesaan, akan
wadah untuk melakukan perlawanan. Meski arus perlawanan ini coba terus
ditahan-tahan oleh para pemimpin SI yang kebanyakan berhaluan Islam modernis,
agak mistik meski berpaham liberal.
Hingga Sneevliet mendarat tahun 1913, belum ada gerakan kiri di Indonesia seperti
sebuah titik ditengah jutaan mil samudera, dimana puluhan negeri- negeri
lainpun tengah memperjuangkan harga diri dan kemerdekaan. Cikal bakal Partai
Komunis Indonesia, ISDV(Perempuan Sosial Demokrat Hindia Belanda) didirikan di tahun
1914. Semaoen yang masih sangat muda pada waktu itu,
merupakan salah satu kadernya yang bersemangat dalam mengorganisir SI semarang,
meski tak cukup punya uang untuk masuk sekolah Belanda. Desakan-desakan dan
pengaruh kelompok kiri ditubuh SI terus membesar, dan para pimpinan moderatnya
mulai kehilangan kontrol atas SI. Tahun 1921, banyak cabang SI yang membelot ke
SI merah pimpinan Semaoen. SI Merah lalu menjadi SI Rakyat.
Salah satu persoalan yang membuat pertikaian tajam dalam tubuh
SI adalah desakan kelompok kiri untuk mengorganisir dan membela kaum buruh dan
tani. Jajaran pimpinan SI menolak memberi dukungan bagi militansi perlawanan
kaum buruh dan tani, yang sebagiannya adalah perempuan. Namun, aksi-aksi buruh,
khususnya buruh trasportasi dan perkebunan, serta aksi kaum tani terus
bergolak. Sarekat rakyatpun mengorganisir berbagai demontrasi politik buruh
perempuan menuntut kenaikan upah, penghapusan buruh anak, perpanjangan kontrak
maksimum, uang pensiun dan perlindungan kerja. Salah satu aksi buruh perempuan
pada tahun 1926 yang diorganisir SR di semarang adalah aksi “caping
kropak”, dimana para buruh
perkebunan perempuan berunjukrasa menuntut kesejahteraan dengan menggunakan
topi bambu.
Gerakan perempuan kelas bawah yang diorganisir SI merah
(kemudian SR) berada dalam posisi yang bertentangan dengan Aisyah, sayap perempuan muhammadiyah. Muhammadiyah
dan aisyah yang kebanyakan anggotanya adalah tani kaya, istri tuan tanah dan
borjuis kecil jogya dan solo itu berada dalam kepentingan yang berseberangan
dengan SR, yang kebanyakan anggotanya adalah buruh perempuan miskin dan tani
papa. Ini merupakan awal dari pertentangan laten yang tak terdamaikan antara
gerakan perempuan sayap kiri dengan kaum perempuan islam dimasa mendatang.
Perbedaan tajamnya bukan hanya berdasarkan pada kepentingan kelas yang
direpresentasikan oleh masing-masing kelompok, namun juga untuk isu-isu seperti
poligami dan keterlibatan aktif perempuan sebagai pimpinan politik.
Pemberontakan 1926 membawa banyak korban dari para aktivis
perempuan. Kali ini bukan karena sekedar membantu suami, namun disebabkan
kegiatan mereka sendiri. Sukaesihdan Munasiah dari jawa barat, bersama dengan kawan-kawan mereka yang lain,
dikirim ke kamp konsentrasi belanda di digul atas. Kebanyakan aktivis perempuan
ini adalah anggota dari Sarekat Rakyat ataupun PKI yang berdiri tahun 1922.
penjajah belanda yang sudah lama menanti- nanti saat yang tapat untuk
menghancurkan kaum radikal, melakukan pembersihan terhadap tokoh-tokoh SR dan
PKI saat itu, termasuk para perempuannya. Tokoh-tokoh ini tidaklah populer
seperti kartini. Publikasi kartini diperkenankan dan difasilitasi oleh
pemerintah belanda karena saat itu mereka membutuhkan bukti untuk menunjukkan
sukses pelaksanaan politik etisnya di tanah jajahan, dengan mengusung pameran
intlektualitas dan kehalusan tulisan si Putri Jepara. Meski demikian,
perjuangan dkk., sangat konkrit dan revolusioner, karena bukan hanya berbicara
tentang pembebasan kaum perempuan, tetapi juga perjuangan untuk sosialisme,
dengan kemerdekaan sebagai jembatannya. Munasiah, misalnya dalam sebuah kongres
perempuan di semarang menyatakan bahwa: “ Wanita itu mataharinya rumah tangga,
itu dulu! Tapi sekarang perempuan jadi alatnya kapitalis. Padahal sejak zaman mojopahit,
wanita sudah berjuang. Sekarang adanya pelacur, itu bukan salahnya wanita. Tapi
salahnya kapitalisme dan imperialisme!”
Terlepas dari perbedaan latar belakang ideologi yang dianutnya,
beberapa hal penting patut jadi kesimpulan. Gagasan-gagasan feminis, berikut
praktek hingga pembentukan organisasi-organisasi perempuan selama masa periode
pertama gerakan perempuan Indonesia ini, ternyata pada umumnya muncul sebagai
inisiatif dari kalangan perempuan menengah keatas. Mulai dari Kartini, Dewi
Sartika, Putri Mardhika (yang dekat dengan budi utomo), hingga aisyah. Hanya sayap
perempuan dari Sarekat Rakyat-lah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya
dalam pengorganisasian dan membangun radikalisasi perempuan miskin.
Persoalan-persoalan yang diangkatpun, oleh karenanya lebih banyak menyangkut
hal yang menguntungkan ataupun dapat diakses oleh perempuan menengah keatas,
seperti permaduan, perdagangan anak dan kesetaraan pendidikan. Perempuan buruh
dan tani telah jauh sebelumnya terlibat dalam carut marut proses produksi keji
kaum kolonial semacam tanam paksa, mengalami ketertindasan dan terhina dirinya
sebagai kelas proletar. Ini mirip dengan gerakan perempuan amerika dan eropa di
abad ke-18, yang memfokuskan tuntutannya pada hak untuk memilih dan dipilih(universal suffrage). Meski demikian, seminimal apapun pengaruhnya
baik mayoritas kaum perempuan dikelas bawah, gerakan perempuan menengah ini
telah mampu membuka jalan dan peluang bagi perjuangan kaum perempuan
selanjutnya.
Periode Kedua Gerakan Perempuan
Saskia wireringa, seorang feminis indonesia yang berdiam di
belanda, menyebutnya sebagai periode kedua. Tidak dijelaskan apa yang melandasi
timbulnya pembagian waktu demikian. Namun kelihatannya, pasca kehancuran PKI
dan gerakan kiri 1926, ada upaya untuk mengorganisasi gerakan secara berbeda
dari sebelumnya. Harus juga dilihat bahwa situasi gerakan pembebasan nasional
saat itu, secara fisik dan terutama intlektual, mulai tumbuh dewasa.
Perbedaan-perbedaan ideologis terumuskan dan terbaca jelas mulai strategi dan
taktik yang dimunculkan, baik oleh PKI, PNI, PI, dan berbagai wadah lainnya. Tokoh-tokoh yang
menjadi magnet dari gerakan ini mulai muncul dan mendapatkan tempatnya
sendiri-sendiri dihati dan telinga rakyat. Namun kemajuan yang paling terang
benderang adalah, dipergunakannya partai politik sebagai alat perjuangan untuk
merebut kekuasaan dan membebaskan Indonesia. Zaman berpolitik ala Sarekat
Islam, saatTjokroaminoto meninabobokkan orang miskin tentang ratu adil dan menjebloskan
agama semakin dalam kejurang mistik, telah lunglai cahayanya. Ini zaman baru.
Zaman dimana teori-teori kiri, pemikiran sosial demokrat, nasionalisme dan
gagasan-gagasan liberal, bahkan fasisme, menjadi bahan debat sengit dikalangan
para inlander terdidik, berjas dan berdasi.
Otomatis, gerakan perempuan pun menyesuaikan dinamikanya dengan
perkembangan ini. Nasionalisme menjadi gagasan yang diterima seluruh kekuatan
politik yang ada, sehingga konsepsi persatuan menjadi lebih mudah untuk
diwujudkan. Maka, Kongres Perempuan Indonesia nasional pertama diadakan di yogyakarta pada
bulan desember 1928, setelah Sumpah Pemuda. Dihadiri oleh hampir 30 organisasi
perempuan, kongres ini merupakan fondasi pertama gerakan perempuan, dan upaya
konsolidasi dari berbagai perempuan yang ada.
Kongres pertama ini menghasilkan federasi organisasi perempuan
bernama Persatoean Perempoean Indonesia (PPI), yang setahun kemudian diubah menjadi PPII (Perikatan
Perhimpunan Istri Indonesia). PPII sangat giat dibidang
pendidikan dan membentuk panitia penghapusan perdagangan perempuan. perbedaan
tajam dengan kelompok islam poligami tetap timbul dan tak terdamaikan.
Mayoritas peserta Kongres datang dari perempuan kalangan atas,
meskipun organisasi perempuan kiri mulai mewarnai. Kongres Perempuan II di Jakarta
(1935) dan Kongres III di Bandung (1938) menunjukan kecenderungan yang semakin
populis dari gerakan perempuan. Orientasi kepada perempuan kelas bawah mulai
menguat, meski dalam hal program tidak selalu konsisten. Yang memilukan adalah
tidak ada satupun organisasi yang tergabung dalam Kongres
Perempuan Indonesia (KPI) mengeluarkan pernyataan terbuka menolak dan melawan penjajahan
kolonial, kecuali Sarekat Rakyat dan Istri Sedar. Kedua kelompok ini secara
konsisten mendorong agar kaum perempuan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.
Seperti yang diucapkan Soekarno pada 1932 : “Saat ini perjuangan kaum perempuan
yang terpenting bukanlah demi kesetaraan, karena dibawah kolonialisme laki-laki
juga tertindas. Maka, bersama-sama dengan laki-laki, memerdekakan Indonesia.
Karena hanya dibawah Indonesia yang merdekalah, kaum perempuan akan mendapatkan
kesetaraannya”. Ditengah-tengah ombak besar nasionalisme yang siang malam
menyerbu mimpi-mimpi para pemuda, mayoritas kelompok lainnya memfokuskan diri
semata pada pendidikan, pemberantasan buta huruf dan soal-soal keperempuanan.
Meskipun hal ini juga amat penting, namun tampa keterlibatan dalam perjuangan
kemerdekaan, semua persoalan kesetaraan akan gagal menghasilkan pembebasan
dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun.
Nasionalisme vs Feminisme?
Menurut sejumlah sejarawan feminis seperti Sakia
Wieringa, sejak kongres 1928,
telah terjadi tarik menarik antara kepentingan nasionalisme dan feminisme.
“Persatuan Nasional” diatur diatas landasan berfikir patriarki yang masih
kental, sehingga pandangan tentang konsepsi kesetaraan menjadi pragmatis, sama
sekali tak mendalam. Patriarki “disembunyikan”, menjadi sekunder dan samar
dalam keteguhan praktek politik membebaskan barat dan laut Indonesia, karena
ada prioritas-prioritas perjuangan yang lebih penting.
Disatu sisi, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Kongres
Pemuda bulan Mei pada tahun
yang sama (yang menelurkan Sumpah Pemuda), sesungguhnya telah memasukkan butir mengenai “pentingnya
kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan persatuan
nasional”, dari keseluruhan enam butir topik yang dibahas. Meski demikian,
seluruh konsepsi tentang kesetaraan saat itu memang tersubordinasi dibawah
kepentingan nasionalisme dan persatuan. Kemudian dalam Kongres Pemuda 1928,
juga ada alokasi satu sessi khusus untuk membicarakan persoalan perempuan.
Beberapa pembicara seperti M. Tabrani, Bahder Johan, Djaksodipoero dan Nona Adam pun memiliki pandangan yang cukup maju dalam
mengkaitkan persoalan perempuan dan kemerdekaan. Meskipun dalam praktek,
kesetaraan belum tentu dapat dilaksanakan.
Namun disisi lain kesenjangan memang terjadi karena masih
lemahnya kemampuan gerakan perempuan saat itu untuk membangun suatu konsep
perjuangan perempuan yang menyeluruh. Juga disebabkan basis massa yang masih
kecil dan belum terpolitisasi dari kalangan perempuan, ditengah gerakan anti
penjajahan yang menggelembung. Hanya sarekat rakyat dan istri sedar-lah
kelompok perempuan yang pada waktu itu secara terbuka menolak kolonialisme dan
kapitalisme. Mungkin “tarik-menarik” bukanlah istilah yang cepat, mengingat
posisi gerakan perempuan memang belum semassif, sepolitis dan seefektif
gerakan anti kolonial. Konsekuensinya, kesetaraan lebih dilihat sebagai tahap
yang harus dibenahi demi konsolidasi persatuan nasional, ketimbang sebagai satu
hak politik dan ekonomi kaum perempuan seutuhnya.
Jika melihat pengalaman gerakan perempuan Amerika Serikat dan
Perancis, kedua-duanya pun timbul dan termotivasi dalam situasi revolusioner
yang diciptakan oleh gerakan pembebasan nasional melawan inggris dan Revolusi
Borjuis Perancis 1789. harus dilihat bahwa gerakan perempuan tidak timbul dan
berkembang sendirian, ia adalah reaksi terhadap perkembangan masyarakat dan
relasi produksinya. Maka, dalam perjalanan feminisme tidak mungkin
dikontradiksikan dengan arus besar nasionalisme anti kolonial, gerakan anti
imperealisme dijaman Soekarno, ataupun gerakan demokrasi dan anti neolibralisme
dimasa sekarang.
Setelah Kongres Perempuan tahun 1928 itu, muncul
organisasi-organisasi perempun yang radikal dalam menentang poligini
(perceraian sepihak oleh laki-laki), poligami, perkawinan anak perempuan, dan
berpendirian nonkooperatif terhadap Pemerintah Kolonial, seperti Isteri Sedar.
Muncul pula “sekolah- sekolah liar”, yang menolak subsidi kolonial. Di
sekolah-sekolah ini ditanamkan semangat cinta Tanah Air dan cita-cita
kemerdekaan. Belakangan Istri Sedar menjelma menjadi Gerwis, yang merupakan cikal bakal Gerwani nantinya.
Tidak banyak tersedia data tentang para tokoh perempuan yang
telibat dalam gerakan bawah tanah melawan fasisme Jepang. Berbagai organisasi
pemuda seperti Gerindo,AMI, Angkatan Muda Minyak, PRI dan terakhir Persindo (1945). Namun data tentang keterlibatan kaum
perempuan dalam wadah dan laskar-laskar itu sering disebut hanya selintas saja
dalam banyak literatur. Yang cukup menonjol adalah keberadaan GWS (Gerakan
Wanita Sosialis), organisasi
perempuan dari simpang kiri gerakan. Banyak anggota GWS saat itu yang ditangkap
dan dibunuh Nippon karena berani terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan
fasisme Jepang.
Oleh : Liny “Linonk” Kubiel,
mahasiswi Bina Sarana Informatika Bekasi, pernah aktif di SMI Cabang Bekasi,
sekarang aktif di Persatuan Perjuangan Indonesia.




0 komentar:
Posting Komentar