Moral
Borjuasi dan Pemilu 2014
Moral
Korup dan Penipu Elit Borjuasi
Tidak
lama lagi, rakyat Indonesia disuguhi pentas drama dari elit-elit politik. Bagi
mereka, pentas drama ini merupakan puncak demokrasi Indonesia. Namun dalam
menuju pesta demokrasi itu, rakyat melihat kebusukan perilaku korup
dari elit-elit politik. Serangkain
tindak pidana
korupsi oleh elit-elit partai borjuasi, seperti skandal kasus Century, kasus
Hambalang, kasus pengadaan Al-Qur’an hingga kasus korupsi impor daging sapi
sebagai berita yang menghiasi media-media cetak dan elektronik nasional. Dari
data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK) sebanyak 69,7 % anggota DPR
terlibat tindak pidana korupsi. Data selanjutnya, ICW mencatat sebanyak 52
politisi terjerat kasus korupsi sepenjang tahun 2012. Praktik korupsi tersebut
sejatinya telah menelanjangi betapa busuknya moral elit-elit politik borjuasi.
Patut diduga pula bahwa moralitas korup elit-elit
politik ada kaitannya dengan pelaksanaan Pemilu
2014 nanti. Dimana biaya Pemilu tidaklah sedikit, sehingga elit dan partai politik memerlukan
topangan finansial yang besar. Dengan penyalahgunaan kewenangan, pembagian
proyek dan melalui penetapan anggaran, elit politik mengumpulkan pundi-pundi
uang untuk anggaran pesta demokrasi. Praktik korupsi kian tumbuh subur bak
jamur di musim penghujan menuju Pemilu 2014.
Apakah benar, Pemilu 2014 merupakan pesta demokrasinya
rakyat Indonesia? Selama ini, elit politik mengatasnamakan rakyat untuk
menduduki tampuk kekuasaan. Namun selama itu pula rakyat selalu kehilangan
hak-hak sosialnya, seperti kehilangan tanah, pekerjaan, pendidikan, kesehatan
dan kehilangan subsidi-subsidi sosial lainnya. Tapi yang pasti adalah rakyat
dijadikan tumpukan kertas suara yang berisi lambang partai dan nama-nama elit
politik yang akan berkuasa, baik di istana maupun di gedung parlemen.
Atas
nama demokrasi, elit-elit
politik hendak
menanamkan ilusi kepada
rakyat agar percaya dan menyerahkan nasib mereka kepada para “wakil rakyat” di parlemen. Elit-elit
politik menyatakan bahwa melalui gedung parlemen
rakyat akan diperjuangkan kesejahteraannya. Kemudian dengan kampaye “Kaum muda saatnya memimpin”, elit-elit
politik hendak mengilusi
kaum muda dengan merekrutnya menjadi kader partai borjuasi. Celakanya, kampus dijadikan lahan
rekruitasi parati borjuasi dengan berbagai kedok agenda kunjungan dan seminar. Bahkan
dengan iming-iming beasiswa dan hadiah fasilitas kuliah, elit-elit politik
membujuk mahasiwa untuk memperkuat dan memperluas
“jaring-jaring suara.”
Hal ini menunjukan bahwa moralitas elit politik adalah moral penipu.
Pemujaan
Buta Parlementerisme
Demokrasi,
Pemilu 2014 serta parlemennya
tidak lain merupakan
perkakas dari yang memerintah. Tatanan masyarakat hari ini berdiri pada sistem
kapitalisme, suatu sistem yang menindas mayoritas masyarakat dengan
menguntungkan segelintir orang yang memiliki modal. Kemudian yang memiliki
kuasa atas pemerintahan adalah
kelas borjuasi,
maka perkakas tersebut berfungsi
sebagai pelaksanan
untuk mengelola dari seluruh urusan-urusan kaum borjuasi
itu sendiri.
Keberadaan partai borjuasi ini
telah mengubah
slogan-slogan perjuangan rakyat menjadi “pepesan tong kosong”, mengilusi
kesadaran, mengintrupsi
perjuangan pembebasan rakyat dengan janji-janji palsu tentang perubahan dan
kesejahteraan. Partai borjuasi juga mengubah perjuangan massa aksi
menjadi parlementerisme. Kemudian
mesin-mesin partai borjuasi terus bekerja mencari dukungan dikalangan rakyat
termasuk juga di kalangan aktivis gerakan. Kurang lebih ada 43 aktivis ’98 opurtunis mendukung
partai-partai borjuasi yang akan berlomba pada 2014 mendatang dan jumlah
tersebut akan terus bertambah. Anggapan dengan masuk parlemen, mereka akan bisa
mengubah sistem dan mempercayakan perubahan sosial dengan “mengoceh”
disidang-sidang parlemen. Sehingga
menjadikan rakyat
terjebak pada birokratisme parlemen dan meninggalkan jalan massa aksi yang
teratur dalam memperjuangkan nasib dan kesejahteraan. Pemujaan terhadap parlementerisme,
menurut Tan Malaka sama halnya dengan “seseorang digurun sahara yang memburu fatamorgana.”
Moral
Borjuasi vs Moral Rakyat
Bahwa
setiap kelas yang berkuasa, pastilah ia akan menciptakan perangkat moralnya
sendiri, oleh karenanya kekuasaan borjuasi akan menciptakan tatanan moralitasnya.
Moral ini tidak turun dari langit, melainkan lahir dari dinamika relasi-relasi
produksi ekonomi dalam masyarakat. Dari penguasaan ekonomi ini, borjuasi akan
melahirkan perangkat politik dan moral untuk selalu melindungi kepentingan-kepentingan
ekonominya. Elit-elit politik berwatak opurtunis menjadi abdi para pemilik
modal yang telah memberikan kekuatan finansial untuk menuju tampuk kekuasan di
Istana maupun di gedung parlemen. Kemudian sebagai balas jasanya, elit politik
membuat dan mengesahkan berbagai macam perundang-undangan yang menguntungkan
bagi para pemilik modal.
Moral
borjuasi tentu akan bertentangan dengan moral kelas tertindas. Moral borjuasi
hendak melanggengkan Pemilu 2014 sebagai Pemilunya borjuasi, Pemilu yang
memproduksi kemelaratan bagi rakyat, Pemilu yang mempertahankan moralitas korup
dan penipu. Sedangkan moral kelas tertindas menentang pelanggengan dominasi
borjuasi dalam demokrasi
borjuasi. Seperti yang dikatakan Lenin bahwa “moral kita secara menyeluruh disubordinasi
pada kepentingan perjuangan kelas proletariat, dalam hal ini adalah
mewujudkan pembebasan nasional. Sehingga diam bukanlah ekspresi moralitas politik
kita dalam Pemilu borjuasi 2014. Moral kita juga bukan hanya moral tolak semata,
moral dari grup mobilisasi tolak Pemilu borjuasi –barisan kelompok yang
frustasi dengan Pemilu borjuasi 2014. Akan tetapi, moral kita bergerak lebih
maju, yakni menolak Pemilu borjuasi 2014 dengan aktif membangun persatuan rakyat
dan membangun alat kekuatan politik sendiri –dengan jalan politik massa aksi.
Bangun
Barisan Oposisi Rakyat
Alat
politik yang hendak dibangun, tidak lain haruslah berprinsip anti elit politik
borjuasi. Karena jika kita hendak melawan kekuasaan borjuasi, maka seluruh daya
upaya kita dicurahkan untuk melawan kekuasaan borjuasi tersebut. Kemudian
perlawanan ini tidak boleh kecil, sehingga persatuan ini haruslah meluas
melibatkan seluruh kekuatan rakyat (buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota,
pemuda, seniman, dll). Dengan
prinsip anti elit barjuasi, gerakan ini merupakan barisan oposisi rakyat yang
ber-demarkasi dan bertapal batas terhadap kekuasaan borjuasi.
Selanjutnya, ayo selekas-lekasnya
kita melakukan konsolidasi
gerakan rakyat dengan melalui ajang-ajang workshop atau konfrensi dalam penyatuan
pandangan mengenai situasi ekonomi politik, sehingga semakin insaf dan sadar
bahwa moralitas kita disandarkan
pada perjuangan kelas dengan membangun persatuan kekuatan rakyat dan membangun
alat politik anti elit borjuasi.
Persatuan gerakan rakyat yang baik adalah persatuan yang memiliki program, baik
program perjuangannya maupun program penguatan persatuannya. Perlu diinsafi,
bahwa persatuan tanpa adanya program maka umur persatuan tidaklah panjang.
Kini kita sedang
bergerak kearah jalan pembebasan nasional, dengan membangun kekuatan alat politik
rakyat, melancarkan massa aksi sejati guna
menghancurkan dominasi kekuatan borjuasi dan bukan sedang berjalan bergandengan tangan
dengan para elit borjuasi
pendukung
Pemilu 2014.




0 komentar:
Posting Komentar