PENDIDIKAN GRATIS, ILMIAH,DEMOKRATIS DAN BERVISI KERAKYATAN
Dalam konsep membangun dan
memajukan sebuah negara, tentunya diperlukan satu grand desain untuk membangun
kesadaran setiap individu agar bisa terlibat aktif dalam upaya memajukan
negara. PENDIDIKAN adalah jalan yang paling efektif untuk membangun kesadaran
serta mendidik kemampuan setiap orang dalam sebuah negara. Maka sangat
diperukan sebuah konsep pendidikan secara nasional yang bersesuaian dengan kebutuhan
tiap wilayah khususnya dan negara pada umumnya.
Pada kenyataannya, di
bawah sistem kapitalisme, selain dijadikan sebagai alat transformasi ideologi
kelas borjuis, pendidikan juga dijadikan komoditi yang diperjualbelikan bahkan
dengan biaya yang sulit untuk diakses oleh Rakyat Miskin.
Hakekat pendidikan
Pendidikan sering dimaknai sempit karena
memang dikaburkan oleh mereka yang berkepentingan untuk tetap melestarikan
rakyat sebagai manusia bodoh yang terasing akan keberadaannya sendiril. Pandangan
sempit itu memaknai pendidikan hanya sebatas menghasilkan orang yang bisa baca tulis
dan berhitung, sungguh hal itu sangat jauh menyimpang dari hakekat pendidikan
itu sendiri yaitu memanusiakan manusia (mebebasakan manusia dari keterasingan, ketertindasan,
keterpurukan dan kebodohan). Karena kesejatian dari pendidikan adalah sebagai
alat bagi setiap orang untuk menjawab setiap perkara hidup.
Cita-cita pendidikan yang demikian (sebagai
alat yang sanggup memenuhi pasar dalam segala sektor aktivitas ekonomi) adalah
menjadi kewajaran, karena memang pendidikan selalu bergaris lurus dengan
kepentingan para kelas pemodal dalam setiap fase perkembanganya dan tentu
menjadi ketidakwajaran bagi massa rakyat yang menginginkan perubahan-perbaikkan
hidup dan memajukan peradaban ummat manusia di dunia maupun khususnya di
Indonesia. Merupakan segi yang bertentangan secara prisnsip antara kepentingan
kelas pemodal atau kelas berpunya dengan kelas tidak berpunya dalam hal ini
massa rakyat tertindas di Indonesia. Disamping
itu juga selain dari alat pemenuhan kebutuhan pasar pendidikan juga menjadi
media yang efekif dalam transformasi suatu nilai, dalam setiap tingkatan
pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi/sekolah tinggi merupakan
ruang dalam menanamkan nilai-ilai berdasarkan kepentingan bagi para pemegang
kepentingan istilah lainnya adalah ruang hegemoni. Bagi kelas pemodal akan
menanamkan nilai yang akan membenarkan setiap teori dan praktiknya singkatnya
kan menjadi penghamba dan pengikut dari sistem kapitalisme, sedangkan bagi
kelas tidak berpunya atau kelas tertindas akan menanamkan nilai-nilai yang
bersinergis dengan kenyataan obyektif massa rakyat dengan kata lain pendidikan
akan menjadi ruang belajar secara teori dan praktik, ruang dalam mendidik massa
sebenar-benarnya mendidik,(penyadaran) dalam artian meningkatkan kualitas
setinggi-tingginya, ruang buat peserta didik belajar bekerja (berpraktik)
sehingga pemisahan kerja otak dan otot menjadi satu kesatuan alias tidak
terpisahkan, tentunya semua itu untuk menuju kemajuan bersama.
Pendidikan Untuk
Semua Atas Tanggungjawab Negara
Hakikat pendidikan seperti uraian sebelumnya
mensyaratkan bahwa massa rakyat niscaya harus mampu diakses atau menikmati
pendidikan, karena kemajuan bersama akan mampu tercapai manakala massa rakyat
memiliki kesadaran maju atas hal itu yang disandarkan atas cita-cita bersama,
berbeda manakala pendidikan hanya mampu diakses oleh minoritas kelas berpunya
dan mengikuti corak produksi yang berkuasa (kapitalisme) maka kemajuan yang
dilahirkan hanya bertumpu pada kepentingan kelas pemodal dalam segala hal. Atas
dasar sesungguhnya pendidikan dimaksudkan untuk semua dan untuk kepentingan
bersama maka pendidikan adalah tanggungjawab Negara sebagai lembaga
refresentatif seluruh massa rakyat. Tanggungjawab dalam makna bahwa Negara
harus mampu menyediakan pendidikan yang layak (berkualitas), mampu dinikmati
oleh massa rakyat (Gratis), mampu melaksanakan proses belajar-mengajar secara
operasional dengan fasilitas penunjang seperti refrensi, laboratorium, ruang
belajar yang nyaman, fasilitas penelitian dan fasilitas pelengkap lainnya.
Tidak hanya sampai disitu, tanggungjawab Negara juga harus mampu menyiapkan
pekerjaan sebagai tempat aplikasi atau realisasi atas pengetahuan yang sudah didapatkan
sebelumnya tentu harus bersinergis juga dengan kebutuhan rakyat dan kemajuan
bangsa, sehingga cita-cita Negara dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dapat
tercapai dalam arti yang sebenarnya.
Akan tetapi berangkat dari kenyataan Negara
yang berdiri di atas corak produksi kapitalisme merupakan alat kepentingan
kelas yaitu kelas pemodal. Negara tidaklah lebih dari hanya sekedar pembuat
regulasi titipan dari para pemegang kepentingan ekonomi-politik termasuk
didalamnya tentang regulasi disektor pendidikan. Lebih lanjut pendidikan di
bawah rezim borjuasi diarahkan, diperuntukkan semata-mata sebagai bagian dari
aktivitas ekonomi disektor jasa dengan kata lain sebagai layaknya seperti
komoditi yang profit oriented. Kenyataan inilah yang menjadi dasar dari
keterpurukan pendidikan nasional-tidak lagi bagiamana mencerdaskan bangsa tapi
sebaliknya bagaimana pendidikan mampu memberikan keuntungan sebesar-besarnya
bagi kelas pemilik pemodal, sehingga massa rakyat tidak mampu mengakses
pendidikan yang layak (berkualitas) dalam semua segi dari tingkat dasar sampai
tingkat perguruan tinggi. Kalaupun memang rakyat mampu menikmati pendidikan
tapi dari segi kualitas hanya sebatas kemampuan dasar
membaca,menulis,berhitung-tidak melahirkan output yang mampu mengubah perbaikkan
hidup baik individu maupun rakyat secara keseluruhan kecuali hanya sebagai
tenaga-tenaga produktif yang berkemampuan rendah dan siap di bayar murah di
pasar kerja. Dari segi kelayakan, pendidikan nasional dalam semua tingkatan
pendidikan menggambarkan ketidaksamarataan alias mengalami ketimpangan, kondisi
pendidikan di desa ataupun daerah terpencil berbeda dengan situasi di kota,
berbeda pula antara pendidikan yang dinikmati oleh kelas berpunya dengan kelas
tidak berpunya bermodalkan semangat, hal ini berlaku disemua tingkatan
pendidikan formal nasional. Artinya akses kelas tidak berpunya sangat berbeda
jauh dibandingkan dengan akses kelas berpunya secara kelayakan pendidikan, hal
ini pula yang mendasari rendahnya kualitas output (lulusan) pendidikan.
1.
Kurikulum Pendidikan?
2.
Cara Belajar mengajar?
3.
Fasilitas ?
4.
Posisi antara pengajar dan yang di ajar?
Bagaimana kita
mewujudkannya?, dimana kita meletakan Negara?, hubungan kita dengan sektor
lain/hubungan antar sektor?, hubungan Organisasi rakyat dalam mewujudkannya?
Nah, sampai saat
ini, platform inilah yang masih kita yakini sebagai jalan untuk melakukan PEMBEBASAN
NASIONAL MELAWAN IMPERIALISME, sekali lagi bahwa yang mampu menjalankan
program-program tersebut adalah sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan
kelas buruh!!!
Perjuangan Kongkrit Serikat Mahasiswa Indonesia
Sebagai organisasi massa mahasiswa
yang telah berikrar untuk memperjuangkan hak-hak social ekonomi massanya yaitu
mahasiswa terutama disektor pendidikan tanpa harus menegasikan perjuangan
sektor lain, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjelaskan atas penjajahan
baru oleh imperialisme, terutama menjelaskan peranan imperialisme yang menindas
melalui dunia pendidikan.
Bahwa kita melihat intervensi
imperialisme internasional di dalam bidang pendidikan, menyangkut:
1. kualitas
2. regulasi-regulasi
(kebijakan) pendidikan yang menindas
3. biaya dan
anggaran pendidikan
4. demokratisasi
kampus
Maka sangat perlu bagi Serikat
Mahasiswa Indonesia terus menggelorakan perlawanan terhadap Kapitalisasi
Pendidikan. Kalau kita belajar dari pengalaman gerakan mahasiswa dalam
memperjuangkan hak-hak atas pendidikan dari berbagai negara, gerakan mahasiswa Indonesia
masih jauh tertinggal. Gerakan mahasiswa di Praha, Perancis, Chile adalah beberapa
negara yang perlu kita pelajari. Bahwa mereka mampu menggelorakan perjuangan
sektor pendidikan yang dimulai dari tuntutan-tuntutan normatif mahasiswa di
kampus... HINGGA meluas menjadi persoalan SOSIAL yang mampu menggerakkan Kelas
Buruh, Guru, Dosen, Seniman dll. Menjadi sangat penting bagi SMI untuk
membangun KESADARAN tiap anggota khususnya dan Rakyat pada umumnya, bahwa
persoalan-persoalan pendidikan adalah PERSOALAN BERSAMA bagi RAKYAT yang ditindas
oleh sistem kapitalisme.
Untuk itu, penting bagi kita merumuskan apa saja yang
menjadi FOKUS PERJUANGAN SMI di sector pendidikan baik dalam bentuk kampanye
maupun perjuangan-perjuangan menuntut hak-hak sector pendidikan.
Fokus kampanye:
“LAWAN KAPITALISASI
PENDIDIKAN!!!”
Dengan memassifkan
perjuangan-perjuangan ekonomis sektor pendidikan yang dimulai dari tingkat
kampus sebagai upaya melancarkan POLITIK PENYADARAN MASSA dan RADIKALISASI GERAKAN MAHASISWA.
Dengan
Target tuntutan:
1.
Cabut UU No. 20 thn
2003 tentang SISDIKNAS.
2.
Cabut
UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
3.
Berikan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi
4.
Stop represifitas di dunia pendidikan
5.
Tolak liberalisasi dan komersialisasi pendidikan
6.
Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan di kampus.
7.
Transparansi biaya pendidikan.




0 komentar:
Posting Komentar