Translate

Jumat, 26 Desember 2014

PLATFORM KE - 1

PENDIDIKAN GRATIS, ILMIAH,DEMOKRATIS DAN BERVISI KERAKYATAN




Dalam konsep membangun dan memajukan sebuah negara, tentunya diperlukan satu grand desain untuk membangun kesadaran setiap individu agar bisa terlibat aktif dalam upaya memajukan negara. PENDIDIKAN adalah jalan yang paling efektif untuk membangun kesadaran serta mendidik kemampuan setiap orang dalam sebuah negara. Maka sangat diperukan sebuah konsep pendidikan secara nasional yang bersesuaian dengan kebutuhan tiap wilayah khususnya dan negara pada umumnya.

Pada kenyataannya, di bawah sistem kapitalisme, selain dijadikan sebagai alat transformasi ideologi kelas borjuis, pendidikan juga dijadikan komoditi yang diperjualbelikan bahkan dengan biaya yang sulit untuk diakses oleh Rakyat Miskin.


 Hakekat pendidikan
Pendidikan sering dimaknai sempit karena memang dikaburkan oleh mereka yang berkepentingan untuk tetap melestarikan rakyat sebagai manusia bodoh yang terasing akan keberadaannya sendiril. Pandangan sempit itu memaknai pendidikan hanya sebatas menghasilkan orang yang bisa baca tulis dan berhitung, sungguh hal itu sangat jauh menyimpang dari hakekat pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia (mebebasakan manusia dari keterasingan, ketertindasan, keterpurukan dan kebodohan). Karena kesejatian dari pendidikan adalah sebagai alat bagi setiap orang untuk menjawab setiap perkara hidup.
Cita-cita pendidikan yang demikian (sebagai alat yang sanggup memenuhi pasar dalam segala sektor aktivitas ekonomi) adalah menjadi kewajaran, karena memang pendidikan selalu bergaris lurus dengan kepentingan para kelas pemodal dalam setiap fase perkembanganya dan tentu menjadi ketidakwajaran bagi massa rakyat yang menginginkan perubahan-perbaikkan hidup dan memajukan peradaban ummat manusia di dunia maupun khususnya di Indonesia. Merupakan segi yang bertentangan secara prisnsip antara kepentingan kelas pemodal atau kelas berpunya dengan kelas tidak berpunya dalam hal ini massa rakyat tertindas di  Indonesia. Disamping itu juga selain dari alat pemenuhan kebutuhan pasar pendidikan juga menjadi media yang efekif dalam transformasi suatu nilai, dalam setiap tingkatan pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi/sekolah tinggi merupakan ruang dalam menanamkan nilai-ilai berdasarkan kepentingan bagi para pemegang kepentingan istilah lainnya adalah ruang hegemoni. Bagi kelas pemodal akan menanamkan nilai yang akan membenarkan setiap teori dan praktiknya singkatnya kan menjadi penghamba dan pengikut dari sistem kapitalisme, sedangkan bagi kelas tidak berpunya atau kelas tertindas akan menanamkan nilai-nilai yang bersinergis dengan kenyataan obyektif massa rakyat dengan kata lain pendidikan akan menjadi ruang belajar secara teori dan praktik, ruang dalam mendidik massa sebenar-benarnya mendidik,(penyadaran) dalam artian meningkatkan kualitas setinggi-tingginya, ruang buat peserta didik belajar bekerja (berpraktik) sehingga pemisahan kerja otak dan otot menjadi satu kesatuan alias tidak terpisahkan, tentunya semua itu untuk menuju kemajuan bersama.

Pendidikan Untuk Semua Atas Tanggungjawab Negara
Hakikat pendidikan seperti uraian sebelumnya mensyaratkan bahwa massa rakyat niscaya harus mampu diakses atau menikmati pendidikan, karena kemajuan bersama akan mampu tercapai manakala massa rakyat memiliki kesadaran maju atas hal itu yang disandarkan atas cita-cita bersama, berbeda manakala pendidikan hanya mampu diakses oleh minoritas kelas berpunya dan mengikuti corak produksi yang berkuasa (kapitalisme) maka kemajuan yang dilahirkan hanya bertumpu pada kepentingan kelas pemodal dalam segala hal. Atas dasar sesungguhnya pendidikan dimaksudkan untuk semua dan untuk kepentingan bersama maka pendidikan adalah tanggungjawab Negara sebagai lembaga refresentatif seluruh massa rakyat. Tanggungjawab dalam makna bahwa Negara harus mampu menyediakan pendidikan yang layak (berkualitas), mampu dinikmati oleh massa rakyat (Gratis), mampu melaksanakan proses belajar-mengajar secara operasional dengan fasilitas penunjang seperti refrensi, laboratorium, ruang belajar yang nyaman, fasilitas penelitian dan fasilitas pelengkap lainnya. Tidak hanya sampai disitu, tanggungjawab Negara juga harus mampu menyiapkan pekerjaan sebagai tempat aplikasi atau realisasi atas pengetahuan yang sudah didapatkan sebelumnya tentu harus bersinergis juga dengan kebutuhan rakyat dan kemajuan bangsa, sehingga cita-cita Negara dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dapat tercapai dalam arti yang sebenarnya.
Akan tetapi berangkat dari kenyataan Negara yang berdiri di atas corak produksi kapitalisme merupakan alat kepentingan kelas yaitu kelas pemodal. Negara tidaklah lebih dari hanya sekedar pembuat regulasi titipan dari para pemegang kepentingan ekonomi-politik termasuk didalamnya tentang regulasi disektor pendidikan. Lebih lanjut pendidikan di bawah rezim borjuasi diarahkan, diperuntukkan semata-mata sebagai bagian dari aktivitas ekonomi disektor jasa dengan kata lain sebagai layaknya seperti komoditi yang profit oriented. Kenyataan inilah yang menjadi dasar dari keterpurukan pendidikan nasional-tidak lagi bagiamana mencerdaskan bangsa tapi sebaliknya bagaimana pendidikan mampu memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi kelas pemilik pemodal, sehingga massa rakyat tidak mampu mengakses pendidikan yang layak (berkualitas) dalam semua segi dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Kalaupun memang rakyat mampu menikmati pendidikan tapi dari segi kualitas hanya sebatas kemampuan dasar membaca,menulis,berhitung-tidak melahirkan output yang mampu mengubah perbaikkan hidup baik individu maupun rakyat secara keseluruhan kecuali hanya sebagai tenaga-tenaga produktif yang berkemampuan rendah dan siap di bayar murah di pasar kerja. Dari segi kelayakan, pendidikan nasional dalam semua tingkatan pendidikan menggambarkan ketidaksamarataan alias mengalami ketimpangan, kondisi pendidikan di desa ataupun daerah terpencil berbeda dengan situasi di kota, berbeda pula antara pendidikan yang dinikmati oleh kelas berpunya dengan kelas tidak berpunya bermodalkan semangat, hal ini berlaku disemua tingkatan pendidikan formal nasional. Artinya akses kelas tidak berpunya sangat berbeda jauh dibandingkan dengan akses kelas berpunya secara kelayakan pendidikan, hal ini pula yang mendasari rendahnya kualitas output (lulusan) pendidikan.
1.       Kurikulum Pendidikan?
2.       Cara Belajar mengajar?
3.       Fasilitas ?
4.       Posisi antara pengajar dan yang di ajar?

Bagaimana kita mewujudkannya?, dimana kita meletakan Negara?, hubungan kita dengan sektor lain/hubungan antar sektor?, hubungan Organisasi rakyat dalam mewujudkannya?

            Nah, sampai saat ini, platform inilah yang masih kita yakini sebagai jalan untuk melakukan PEMBEBASAN NASIONAL MELAWAN IMPERIALISME, sekali lagi bahwa yang mampu menjalankan program-program tersebut adalah sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan kelas buruh!!!

Perjuangan Kongkrit Serikat Mahasiswa Indonesia

            Sebagai organisasi massa mahasiswa yang telah berikrar untuk memperjuangkan hak-hak social ekonomi massanya yaitu mahasiswa terutama disektor pendidikan tanpa harus menegasikan perjuangan sektor lain, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjelaskan atas penjajahan baru oleh imperialisme, terutama menjelaskan peranan imperialisme yang menindas melalui dunia pendidikan.

            Bahwa kita melihat intervensi imperialisme internasional di dalam bidang pendidikan, menyangkut:
1. kualitas
2. regulasi-regulasi (kebijakan) pendidikan yang menindas
3. biaya dan anggaran pendidikan
4. demokratisasi kampus

            Maka sangat perlu bagi Serikat Mahasiswa Indonesia terus menggelorakan perlawanan terhadap Kapitalisasi Pendidikan. Kalau kita belajar dari pengalaman gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak atas pendidikan dari berbagai negara, gerakan mahasiswa Indonesia masih jauh tertinggal. Gerakan mahasiswa di Praha, Perancis, Chile adalah beberapa negara yang perlu kita pelajari. Bahwa mereka mampu menggelorakan perjuangan sektor pendidikan yang dimulai dari tuntutan-tuntutan normatif mahasiswa di kampus... HINGGA meluas menjadi persoalan SOSIAL yang mampu menggerakkan Kelas Buruh, Guru, Dosen, Seniman dll. Menjadi sangat penting bagi SMI untuk membangun KESADARAN tiap anggota khususnya dan Rakyat pada umumnya, bahwa persoalan-persoalan pendidikan adalah PERSOALAN BERSAMA bagi RAKYAT yang ditindas oleh sistem kapitalisme.
            Untuk itu, penting bagi kita merumuskan apa saja yang menjadi FOKUS PERJUANGAN SMI di sector pendidikan baik dalam bentuk kampanye maupun perjuangan-perjuangan menuntut hak-hak sector pendidikan.

Fokus kampanye:

“LAWAN KAPITALISASI PENDIDIKAN!!!”
           
            Dengan memassifkan perjuangan-perjuangan ekonomis sektor pendidikan yang dimulai dari tingkat kampus sebagai upaya melancarkan POLITIK PENYADARAN  MASSA dan RADIKALISASI GERAKAN MAHASISWA.

Dengan Target tuntutan:
1.       Cabut UU No. 20 thn 2003 tentang SISDIKNAS.
2.       Cabut UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
3.       Berikan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi 
4.       Stop represifitas di dunia pendidikan
5.       Tolak liberalisasi dan komersialisasi pendidikan
6.       Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan di kampus.
7.       Transparansi biaya pendidikan.

0 komentar:

Posting Komentar