Translate

Jumat, 26 Desember 2014

GARIS POLITIK KE -1

Tentang Garis Politik Kita

PEMBEBASAN NASIONAL MELAWAN IMPERIALISME



SITUASI DUNIA

Kapitalisme Sebagai Sistem Yang Gagal Dan Usang

Harus kita akui, kapitalisme sebagai salah satu babakan sejarah perkembangan umat manusia, sejak kelahiranya pada abad ke-19 turut memberikan sumbangan yang sangat besar bagi peradaban manusia. Salah satunya adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mengantarkan penduduk dunia pada zaman modern yang bahkan hampir tidak mengenal batas negara, kebudayaan, sistem kepercayaan dll. Namun di sisi lain, sistem kapitalisme sebagai sistem sosial dan sistem ekonomi juga melahirkan satu KETIMPANGAN yang menunjukkan wajah sebenarnya dari kapitalisme sebagai sistem sosio ekonomi yang TIDAK ADIL dan MENINDAS. Ketimpangan tersebut juga melahirkan PERTENTANGAN yang tidak akan bisa didamaikan antara kelas borjuis dan kelas proletar.

KRISIS, sebagai cacat bawaan dan kepastian dalam kapitalisme yang berulang kali menghantam sistem ini telah menunjukkan kepada kita, bahwa sistem KAPITALISME tidak pernah mampu membawa kesejahteraan untuk masyarakat dunia (Rakyat semesta). Badai Krisis yang dialami kapitalisme, dalam tiap tahapan pemulihannya senantiasa MENGORBANKAN mayoritas penduduk dunia dalam bentuk perang, penguasaan sumber-sumber kekayaan negara dunia ketiga yang justru memperparah PENDERITAAN KELAS TIDAK BERPUNYA. KEMISKINAN, PENDIDIKAN DAN KESEHATAN MAHAL, PENGANGGURAN, PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, adalah fakta-fakta yang tidak bisa terselesaikan oleh sistem kapitalisme. Teori Kebebasan persaingan (laisses faire laisses passer), keseimbangan pasar oleh tangan tak terlihat (Invisible Hand), penghilangan campur tangan negara sudah menjadi OMONG KOSONG, karena pada kenyataannya kelas kapitalis selalu MEMBUTUHKAN NEGARA dan aparaturnya untuk menghisap dan menindas!!! Bahkan, badai krisis di abad ke-21 adalah krisis terparah dan terpanjang dalam sejarah berkuasanya sistem yang berkiblat pada mazhab Adam Smith ini.

Krisis kapitalisme kembali memasuki fase baru. Rencana pemotongan quantitative easing oleh The Fed dan penarikan kapital besar-besaran ke AS, membuat pasar obligasi dan ekonomi global gempar. Perubahan kebijakan AS itu menyedot “Hot money” yang turut menjadi penyumbang emerging ekonomi global, dan membuat investasi mengalihkan minatnya kembali ke dollar. Dalam beberapa jam saja bursa di beberapa kawasan Asia dan Eropa anjlok. Dollar menjadi kian perkasa dan menghempaskan mata uang beberapa kawasan Asia dan Eropa. Imbasnya, rupiah tertekan, terjadi defisit neraca ekonomi, terutama di Indonesia. Menghadapi realitas yang ada, satu-per-satu prediksi pertumbuhan ekonomi liberal yang dibangga-banggakan, harus diturunkan. Harapan mereka akan kepulihan ekonomi terdorong ke masa depan yang jauh, dimana kabut kekacauan ekonomi mencegah mereka untuk melihat apapun atau bahkan memahami apapun.

Jerman, pusat kekuatan Uni Eropa (EU) yang telah menjaga kesatuan EU, mengubah prediksi pertumbuhan 2013 mereka dari 1,6% menjadi 0,4%, sementara pertumbuhan tahun 2012 juga dipotong dari 1% menjadi 0,7%. Korea, salah satu mesin pertumbuhan di Asia, memotong prediksi pertumbuhan 2013 dari 4,3% menjadi 3%, sementara pertumbuhannya pada 2012 diturunkan dari 3,3% menjadi 2,1%. India mengikuti tren yang sama, menurunkan prediksi pertumbuhan tahun 2012 menjadi 5,8%, jauh dari estimasi awalnya 7,6%. Untuk seluruh dunia, PBB baru saja memotong prediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2013 dari 3,2% menjadi 2,4%. Belum lama yang lalu, pada Juni, PBB memprediksikan pertumbuhan global 3,9%. Hanya ada satu hal yang pasti hari ini, yakni ketidakpastian.

Pemerintah Yunani telah dipaksa mengimplementasikan sebuah kebijakan penghematan, memangkas anggaran mereka sebesar 30 milyar euro dalam 3 tahun. Kaum pekerja dipaksa membayar untuk krisis kapitalisme. Spanyol, Portugal, Irlandia, Italia, dan Inggris – yang ekonominya lebih besar daripada Yunani – ada di situasi yang sama. Pada tanggal 29 Mei 2013, Spanyol menyusul langkah Yunani, menyetujui rencana penghematan yang akan memangkas 15 milyar euro termasuk pemotongan gaji pegawai negeri. Pemerintahan koalisi Cameron-Clegg yang baru, pada 24 Mei, hanya dua minggu setelah berkuasa, telah mengambil langkah pertamanya untuk menyerang kaum buruh dengan mengumumkan pemotongan sebesar 6 milyar poundsterling. Pada tanggal 26 Mei 2013, pemerintahan Italia di bawah Berlusconi mengungkapkan sebuah rencana untuk memangkas 24,9 milyar euro dari anggaran negara mereka, yang termasuk tiga tahun pembekuan gaji untuk pegawai negeri. Pada tanggal 13 Mei, pemerintahan Portugis mengumumkan kenaikan pajak dan pemotongan anggaran. Semua kebijakan penghematan ini telah direspon dengan demonstrasi-demonstrasi oleh gerakan rakyat.

China datang sebagai pemberi harapan untuk kapitalisme dunia. Untuk menghindari krisis tahun 2008, dimana permintaan dari AS, Eropa, dan Jepang menurun, China telah mengubah haluan ekonominya dari orientasi ekspor ke orientasi konsumsi domestik. China telah melakukan investasi infrastruktur yang signifikan untuk meningkatkan konsumsi domestik dan mendorong jalannya ekonomi. Semenjak tahun 2008, ia telah membangun 10.000 kilometer rel kereta cepat (lima kali lipat seluruh jaringan kereta cepat di Prancis); 85.000 kilometer jalan raya, yang melebihi seluruh jaringan jalan raya AS; 6 dari 10 pelabuhan kontainer terbesar di dunia; stadium-stadium Olimpiade termahal; tiga jembatan laut terpanjang di dunia. September lalu, pemerintahan China menyuntik kembali sebuah paket stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang melambat, yakni $150 milyar untuk 60 proyek infrastruktur. Akan tetapi, prospek jangka panjang ekonomi China masih bersandar pada pemulihan permintaan dari AS, Eropa, dan Jepang. Investasi infrastruktur yang besar akan meningkatkan produktivitas China, yang berarti akan ada lebih banyak produk yang keluar dari pabrik-pabrik China, produk-produk yang pada akhirnya harus dijual. AS, Eropa, dan Jepang – kendati ekonominya yang sedang menurun – masihlah merupakan pasar terbesar di dunia. Kebijakan “ekonomi terbuka” Deng Xiaoping telah menunjukkan bahwa China tidak bisa menjadi ekonomi yang berdiri sendiri, kecuali kalau ia ingin mengikuti jalan Korea Utara.

Perebutan hak monopoli pasar, tenaga kerja murah dan bahan baku murah menjadi lumbung utama dari penyelamatan krisis. Tak heran, negara-negara imperialis getol mendorong pertemuan-pertemuan regional dan kawasan macam WTO, APEC, G-8, G-20, MEA, dan sejenisnya. Atas nama kerjasama ekonomi, mereka menawarkan obat mujarab dari krisis, yaitu pembukaan pasar bebas, liberalisasi arus modal dan liberalisasi pasar tenaga kerja. Bak kerbau dicongek hidungnya, Indonesia yang terlibat cukup aktif dalam forum penuh intrik itu, langsung menurunkan program paket kebijakan percepatan pertumbuhan ekonomi dalam program MP3EI yang sarat liberalisasi. Bahkan, rejim harus berpikir keras agar terhindar dari lubang krisis dengan merevisi pemberlakuan OJK serta memberi ruang nyaman bagi investasi. Sementara para pengusaha diberi keringanan pajak (sunset policy), buruh menjadi sektor yang paling menderita dengan pemberlakuan politik upah murah dan harga-harga kebutuhan pokok yang tak terkendali.

Bagaimanapun cara pemerintahan di seluruh dunia menambal keborokan kapitalisme, sejatinya ini akan mengakibatkan – dan telah mengakibatkan – penajaman perjuangan kelas.

Maka dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa sistem KAPITALISME adalah sistem sosio ekonomi yang GAGAL dan USANG yang tidak mampu membawa masyarakat dunia pada kesejahteraan.


SITUASI INDONESIA

            Jika KAPITALISME kita andaikan sebagai sebuah bangunan yang ditopang oleh negara-negara di dunia sebagai tiang-tiang penyangga, maka Indonesia juga salah satu penyangganya.

Sejak masuknya kolonialisme Eropa pada abad pertengahan (abad ke-16), Indonesia (Nusantara) yang masih berada di bawah kekuasaan Feodal lambat laun mengalami pergeseran kekuasaan menjadi kekuasaan yang didominasi oleh kekuatan MODAL ASING. Mulai dari peralihan penguasaan tanah oleh modal swasta melalui Agrarische Wet (1870) hingga munculnya industri modern (pabrik, kereta api dll) sebagai salah satu tanda keruntuhan Feodalisme Indonesia dan menunjukkan bahwa Indonesia telah berada dalam cengkeraman kapitalisme serta menjadikan Indonesia wilayah untuk memproduksi barang kebutuhan pasar internasional yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan penduduk pribumi yang diperbudak di negerinya sendiri.

Namun lambat laun juga Rakyat Indonesia tidak mampu lagi menutup-nutupi perasaan dari GERTAKAN dan TINDAKAN bangsa penjajah yang sudah berlangsung selama 350 tahun. Cambuk, tongkat karet, senapan kaum imperialis mulai disambut dan ditantang oleh bangsa Indonesia. Bukan karena bisikan gaib, jimat atau sumpah, tetapi karena KESADARAN untuk bebas dari mental BUDAK dan perjuangan akan HAK-HAK yang nyata sebagai manusia – bangsa yang berkehendak untuk merdeka – yang mendorong bangsa Indonesia mengorbankan jiwanya untuk mendapatkan HAK tersebut.

Revolusi Borjuis 1945
Sejak penghancuran PKI secara fisik pada tahun 1927, otomatis panggung gerakan didominasi oleh tokoh-tokoh borjuis-nasionalis seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Kekalahan PKI pada tahun 1927 dan Gelombang Depresi Hebat menjelang PD II – telak memukul Indonesia cukup keras karena ekonominya sangat tergantung pada ekonomi internasional. Kelelahan ini membuka satu periode semi-reaksi di Indonesia, dimana gerakan nasionalis maupun komunis terpukul mundur secara politik dan organisasional. Sekitar 13 ribu penangkapan terjadi dimana ribuan orang dikirim ke kamp konsentrasi Boven Digul.

Gerakan nasionalis Indonesia mendapatkan momentumnya kembali setelah kekalahan Belanda di tangan Jepang pada tahun 1942, menandai berakhirnya tiga-setengah-abad penjajahan Belanda dan awal dari tiga-setengah-tahun penjajahan Jepang. Namun jenis nasionalisme yang bangkit adalah nasionalisme borjuis yang secara ketat dikendalikan oleh Jepang dalam kerangka Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya dengan slogan “Asia untuk Orang Asia”. Jepang mengasuh di bawah sayap mereka pemimpin-pemimpin penting Indonesia, di antara mereka adalah Soekarno, guna mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia untuk mesin perang mereka dalam mempertahankan wilayah-wilayah yang sudah mereka taklukkan dari pasukan Sekutu. Janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia adalah satu usaha untuk mengendalikan gerakan nasionalis. Di situasi ini, muncul ruang-ruang kompromis terhadap fasis Jepang yang di praktikkan oleh para nasionalis.

Revolusi borjuis  17 Agustus 1945 yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta telah memulai babak baru dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang diperjuangkan di lapangan militer melawan kekuatan Sekutu dan di lapangan politik antara kaum reformis dan kaum revolusioner. Kaum reformis, yang digaungi oleh Hatta dan Sjahrir, merasa cukup dengan kemerdekaan Indonesia di bawah jempol imperialisme, sedangkan kaum revolusioner, yang dipersonifikasi oleh Tan Malaka dan front persatuannya Persatuan Perjuangan, menuntut 100% Merdeka. Kaum revolusioner berjuang dengan berani melawan pasukan Sekutu dan juga melawan pemimpin nasionalis seperti Hatta yang ingin berkapitulasi pada kekuatan imperialis dan menasionalisasi semua perusahaan dan perkebunan Belanda, yang nota-bene berarti penundukan ekonomi Indonesia terhadap Belanda.

Pada tanggal 27 Desember 1949, setelah banyak pertempuran yang gagah berani, yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang Indonesia, Belanda terpaksa mengakui kemerdekaan Indonesia. Namun, para pemimpin borjuis nasionalis telah menjual seluruh Indonesia dengan menyetujui pengembalian seluruh perusahaan, tanah perkebunan, dan tambang-tambang Belanda dan membayar 4,3 milyar gulden (atau senilai 10,1 milyar dollar pada tahun 2009) yang merupakan agresi militer Belanda di Indonesia selama 4 tahun. Ini menaruh ekonomi Indonesia di bawah jempol kaum imperialis dan program 100% Merdeka dikhianati.

Dibawah kepemimpinan revolusi borjuis Sukarno menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia diambang krisis. Dalam 5 tahun, inflasi naik dari 20% hingga 600%, defisit anggaran naik dari 17% hinggal 63%. Penyebab segera dan langsung dari meningkatnya inflasi, yang bagi buruh dan tani berarti menurunnya pendapatan riil mereka, tidak sulit untuk ditemukan. Hal ini yang melatarbelakangi lahirnya UU PMA tahun 1958, sebagai upaya penyelamatan krisis.

Pemerintahan Soekarno mencoba menyeimbangkan dua kekuatan utama: kekuatan komunis dan kekuatan tentara di bawah jendral-jendral reaksioner. Di belakang kaum Komunis adalah kelas pekerja, petani miskin, kaum miskin kota, dan banyak kaum intelektual, artis, dan nasionalis kiri. Di belakang jendral-jendral reaksioner adalah pemilik tanah kaya, nasionalis sayap kanan, dan terutama kekuatan imperialis. Dua kekuatan itu menciptakan dinamika politik yang cukup kencang, dan sesekali ledakan demonstrasi di beberapa titik.

Kebijakan setengah-hati dari pemerintahan Soekarno, yang menyerukan slogan revolusioner tanpa menyelesaikan revolusi sosialis, menghapus kapitalisme secara penuh dan mengimplementasikan ekonomi terencana di bawah kontrol demokratik buruh, dan di pihak lain penolakan dari PKI untuk merebut kekuasaan karena mereka terikat kaki dan tangannya pada kaum borjuis nasional (di bawah teori dua-tahap mereka), mengakibatkan kekalahan kelas pekerja. Di dalam sebuah perjuangan kelas, hanya ada satu aturan: satu kelas harus menang dan kelas yang lain harus kalah. Sebuah situasi perjuangan kelas yang tajam, seperti di Indonesia pada akhir 1950 hingga pertengahan 1960, tidak bisa berlangsung selamanya. Satu kelas harus kalah. Sikap keras kepala PKI untuk mengabaikan perjuangan kelas dengan mengsubordinasikannya di bawah perjuangan nasional menyebabkan kehancuran mereka. Peristiwa 1965 dengan penumpasan PKI telah menandai kehancuran kekuatan Revolusioner dan keruntuhan rezim Soekarno. Pemerintahan kemudian diambil alih oleh Soeharto dan golongan militer yang kita kenal sebagai Orde Baru.

Orde Baru dan Kemenangan Imperialis
Kelahiran Orde Baru menjadi langkah mulus imperialisme dalam menguasai ekonomi politik Indonesia. Sebelum menghadiri konferensi Jenewa di Swiss, Soeharto telah mengesahkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang penanaman modal asing. Melalui UU 1/1967, secara resmi pemodal asing dapat menginvestasikan modalnya di Indonesia dengan keringanan pajak. Lalu  UU 8/1966 menandai fase secara bertahap kekuatan ekonomi bergantung pada IMF, World Bank, dan korporasi asing.

Orde Baru membawa sebuah eksploitasi yang semakin parah. Dalam waktu 10 tahun, dari tahun 1971 hingga 1981, total nilai ekspor meloncat dari US$ 1,2 milyar hingga US$ 25,2 milyar, sebuah loncatan tinggi sebesar 2100% dalam 10 tahun. Minyak dan gas bumi secara konsisten mencakup lebih dari 50 persen total nilai ekspor hingga tahun 1987, dengan Jepang sebagai tujuan ekspor utama. Sekitar 80% dari ekspor minyak dan gas bumi menuju Jepang dan Amerika Serikat. Periode dari tahun 1971 sampai 1987 sering disebut sebagai periode migas.

Dekade 1990an, ditandai dengan kebijakan-kebijakan ekonomi neoliberal sebagai konsekuensi keanggotaan Indonesia di forum WTO dan APEC. Kesepakatan GATS (General Agreement of Trade Services) menuntun Indonesia untuk membuka swastanisasi sector jasa. Pendidikan dan Kesehatan pun masuk dalam poin jasa yang berpotensi menghasilkan profit menjanjikan. 

Tujuh tahun sebelum krisis ekonomi 1997, ada influks kapital yang besar ke dalam sektor swasta, dari US$ 314 juta pada tahun 1989 ke US$ 11,5 milyar pada tahun 1996, sebuah peningkatan 3500%. Kapital swasta yang besar ini, kebanyakan darinya adalah kapital jangka pendek yang diinvestasikan ke sektor real-estate, menciptakan ekonomi gelembung yang meledak pada saat krisis finansial Asia 1997. Krisis sangat parah. Dari pertumbuhan pertahun rata-rata 7%, PDB riil berkontraksi hampir 14% pada tahun 1998. Rupiah anjlok dari Rp. 2.450 ke Rp. 14.900 terhadap dolar AS antara bulan Juni 1997 dan Juni 1998. Pemerintahan kapitalis, dengan bantuan dari reformis-reformis tulen, cepat membail-out bank-bank dan perusahaan-perusahaan finansial yang berjatuhan. Sebagai akibatnya, hutang publik pemeringah naik dari nol sebelum krisis menjadi US$ 72 milyar, sebuah jumlah besar yang harus dibayar oleh rakyat pekerja.

Liberalisasi dan Kegagalan Reformasi
Kegagalan Reformasi sangatlah mencolok sehingga bahkan massa rakyat mulai mengidamkan “masa lalu yang baik” di bawah Soeharto ketika kemiskinan lebih tertanggungkan dan ada semacam kestabilan. Di bawah kedok demokrasi, tingkat eksploitasi sebenarnya justru meningkat. Ini adalah logis, karena bagi kelas penguasa demokrasi berarti kebebasan untuk menindas. Sebagai konsekuensinya, agenda neo-liberal telah diimplementasikan lebih ganas dalam tahun-tahun belakangan. Banyak perusahaan dan properti negara yang sedang diprivatisasi. Subsidi negara dihapus. Tidak heran kalau rakyat letih akan situasi sekarang ini dan skeptis akan apa yang telah dibawa oleh Reformasi 1998.

Pada tanggal 1 Januari 2010, Indonesia, dengan sembilan negara ASEAN lainnya, meratifikasi ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dimana ini akan mengurangi tarif lebih dari 7500 kategori produk, atau sekitar 90% dari barang impor, hingga nol. ACFTA adalah area perdagangan bebas terbesar dalam hal populasi, dengan sekitar 1,9 milyar penduduk, dan ketiga terbesar dalam hal PDB nominal. Menyusul ACFTA adalah ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) yang diharapkan akan jalan di Indonesia pada tanggal 1 Juni 2010. Kedua perjanjian perdagangan bebas ini akan membanjiri pasar Indonesia dengan barang-barang murah dari Tiongkok dan India, menghancurkan industri manufaktur dan pertanian Indonesia, dan menciptakan perlombaan ke bawah yang lebih parah tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh wilayah ASEAN-Cina-India. Dilematisnya, negara-negara kurang berkembang seperti Indonesia, kebijakan proteksionis dari negara-negara kapitalis besar akan membuatnya kehilangan pasar ekspor dan menghancurkan industri di dalam negeri, dan mendorong jutaan buruh dan tani ke pengangguran.

Menilik dari situasi ekonomi global, yakni pemulihan ekonomi tanpa penciptaan lapangan kerja, proyeksi optimis dari pemerintahan SBY berdiri di atas pondasi yang rapuh. Terlebih lagi, krisis overproduksi di negeri-negeri kapitalis maju yang semakin parah, dengan kapasitas produksi 30% lebih besar daripada daya beli konsumen. Ini berarti bahwa pemulihan ekonomi di negeri-negeri maju akan berlangsung tanpa penciptaan lapangan kerja. Selain mengurangi permintaan impor dari negeri-negeri Asia, ini juga akan mengurangi investasi asing. Hampir 50% investasi untuk perusahaan-perusahaan non-finansial di Indonesia datang dari kapital asing. Sebagai akibatnya, kita telah mulai menyaksikan banyak rencana-rencana investasi di Indonesia yang telah ditunda dan dibatalkan. Dengan penurunan investasi dan permintaan asing, kita akan melihat penurunan di dalam level produksi di Indonesia dan peningkatan tingkat pengangguran.

Krisis finansial 2008/2009 adalah krisis yang terbesar semenjak Depresi Hebat 1929. Secara ekonomi, sosial, dan politik, krisis ini akan meninggalkan sebuah bekas di dalam sejarah kapitalisme. Kapitalis seluruh dunia berjuang untuk mengatasi kontradiksi dari sistem mereka. Mereka akan memindahkan beban krisis ini ke pundak milyaran buruh dan tani. Tanda-tanda krisis baru namun hampir serupa kembali muncul di pertengahan tahun 2013.

Pabrik-pabrik sedang ditutup dengan jutaan buruh dipecat (“memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif”) dan mereka yang masih beruntung memiliki pekerjaan mereka sedang dipaksa bekerja lebih keras dan lebih lama dengan bayaran yang lebih rendah. Ada kemerosotan  dalam permintaan dunia dan kapitalis seluruh dunia dipaksa untuk membuka lebih banyak pasar baru dan membesarkan yang lama (“merebut pasar-pasar baru dan menghisap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna”) melalui perjanjian-perjanjian perdagangan bebas dan segala macam skema ekonomi. Lalu, kapital telah merasuk ke semua sudut dunia dan tidak ada lagi pasar yang baru yang bisa direbut. Dalam 50 tahun terakhir, kapitalisme telah berhasil menghindari krisis besar dengan membuka pasar-pasar baru (terutama di Cina, India, dan Rusia). Sebagai konsekuennya, ini telah “membukakan jalan untuk krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi cara-cara yang dapat mencegah krisis-krisis itu.” Dan memang benar, sebuah krisis yang lebih besar sedang menanti kelas penguasa.


Garis Politik Kita:
PEMBEBASAN NASIONAL MELAWAN IMPERIALISME

Posisi SMI Sebagai Bagian Yang Tidak Terisahkan Dari Gerakan Rakyat &  Kebutuhan Membangun PERSATUAN Sebagai Alat Politik
Kemudian pertanyaannya, apakah kita percaya dan menyerahkan perubahan nasib pada partai politik borjuasi yang sudah terbukti menghianati rakyat? Jelas kita tidak akan percaya dan tak akan pernah mendukung partai borjuasi. Karena sejatinya perubahan sosial, kesejahteraan hanya bisa didapat dengan perjuangan rakyat sendiri melalui jalan politik MASSA AKSI yang teratur. Sehingga persatuan gerakan rakyat yang mandiri, lepas dari intervensi partai politik borjuasi, dan kemudian membentuk alat kekuatan politik rakyat sendiri pula dengan tujuan pembebasan nasional dari belenggu penindasan kapitalisme.

Kepentingan-kepentingan rakyat akan selalu bertentangan dengan kepentingan kelas kapitalis. Dimana kaum buruh menghendaki upah layak (Upah Relatif Nasional) sedangkan kaum kapitalis menghendaki upah murah. Dimana kaum tani menghendaki reforma agararia sedangkan kaum kapitalis menginginkan perampasan tanah. Dimana pelajar-mahasiswa menghendaki pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan sedangkan kaum kapitalis mengkapitalisasikan pendidikan. Perjuangan atas kepentingan-kepentingan ini, tidak boleh berjalan secara parsial (terpisah) melainkan harus disatu-padukan dalam satu-persatuan yang maha dasyat (Persatuan Multisektoral).

Kebangkitan gerakan rakyat baik buruh dan petani, sedikit banyak telah membuat rezim dan kaum kapitalis murka karena telah menghambat proses akumulasinya. Namun watak kelas kapitalis yang serakah, tidak akan menyerahkan sedikitpun dari apa yang sudah dirampas dari rakyat. Maka kelas kapitalis bersama rezim borjuasi melakukan serangan-serangan balik atas keperjuangan rakyat. Mereka melakukan tindakan represifitas dan kriminalisasi, gerakan dan terus memojokan gerakan.

Hari ini SMI memandang masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kapitalistik atau sebuah fase dimana kapitalisme menjadi sebuah corak produksi, sehingga posisi rakyat berada dalam cengkeraman IMPERIALISME (tahap tertinggi dari perkembangan kapitalisme), maka pilihan sikap yang paling tepat yang harus kita tegaskan adalah PEMBEBASAN NASIONAL MELAWAN IMPERIALISME sebagai musuh bersama dari seluruh sector rakyat dan terutama adalah musuh kelas buruh. Sekali lagi, perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. PERSATUAN... PERSATUAN... PERSATUAN.... Ia adalah kunci utama dari perjuangan untuk menghancurkan sistem sosial yang tidak adil dan menindas ini, maka persatuan sudah seharusnya menjadi KEBUTUHAN bagi segenap gerakan Rakyat. SMI sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan rakyat memiliki TANGGUNG JAWAB MORAL dan IDEOLOGIS serta berkepentingan untuk mendorong dan membangun PERSATUAN GERAKAN RAKYAT. Yang menjadi titik evaluasinya, adalah persatuan multisektor yang dibangun masih sebatas sebagai komite aksi dan masih berdasar momentum. Kemudian tugas gerakan adalah mengkualitaskan persatuan multisektor dengan program-program yang mengarah pada pembelejetan dan menyerang politik borjuasi dengan prinsip Anti Kapitalisme sehingga kekuatan Rakyat akan muncul sebagai satu gerakan kelas yang memiliki tekad bulat untuk berhadapan langsung (face to face) dengan kelas borjuasi dan menghancurkannya.




[1] Tidak ada perubahan substansial pada Garpol. Konferensi Nasional Ke-IV hanya menambahkan perkembangan situasi kekinian dan mempertajam analisa kegagalan kapitalisme

0 komentar:

Posting Komentar