Awalnya Venezuela…
Kita mulai saja
ceritanya pada era kolonial. Penyelenggaraan pendidikan Venezuela dimonopoli
oleh golongan Gereja Katolik Roma. Hanya minoritas yang bisa mengakses
pendidikan, yaitu pemilik tanah dan kalangan bangsawan gereja saja, dengan
sistem ajaran ala bangsawan Spanyol. Lalu muncul gagasan pendidikan, dimana
hirarki sosial yang kaku yang membedakan antara seorang pemikir atau penulis
dengan pekerja manual/teknik. Studi filsafat atau sastrawan memiliki prestise
lebih tinggi dibandingkan studi teknis ilmiah, sehingga pendidikan kejuruan
yang berorientasi teknis dan praktek cenderung diabaikan. Sistem pendidikan
dikemas dengan struktur kaku di kurikulumnya.
Awal abad 19,
seiring berkembangnya liberalisme revolusi Perancis dan Amerika, muncul
pemikiran baru mengenai pendidikan. Konsep baru itu dibawa oleh Simon
Bolivar yang banyak terinspirasi oleh pemikiran JJ Rousseau dan sistem
pendidikan Perancis yang cenderung menguji pengetahuan dengan praktek ilmiah.
Dari situ, muncul pemikiran konsep pendidikan publik, yang seharusnya tidak
kaku pada teori dan bebas didapat oleh rakyat Venezuela. Setelah deklarasi awal
kemerdekaan pada tahun 1811, Bolivar mengeluarkan serangkaian keputusan tentang
pendidikan gratis. Sayangnya, saat kematiannya pada tahun 1830, sebagian besar
program yang ia ajukan belum diterapkan.
Sampai datang masa
Antonio Guzmán Blanco pada tahun 1870. Wajah pendidikan Venezuela disambut
dengan dikeluarkan dekrit di mana ia mengakui pendidikan umum wajib dasar
sebagai tanggung jawab pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal. Peran
gereja sebagai pemegang monopoli pendidikan Venezuela pelan-pelan mulai
berkurang. Rezim Guzmán melanjutkan untuk mengatur administrasi dan pembiayaan
sistem sekolah, mendirikan Departemen Pendidikan Umum dan lapangan kerja
seluasnya untuk guru-guru. Pada tahun 1891 National University of Zulia di
Maracaibo diciptakan, diikuti pada tahun berikutnya dengan National University
of Carabobo di Valencia. Tapi ini awal yang ambisius itu terhenti mendadak.
National University of Carabobo ditutup tak lama setelah membuka dan tutup
kembali sampai 1958. National University of Zulia, ditutup pada tahun 1904,
tidak berfungsi lagi sampai 1946.
Pemerintahan pun
berganti ke kediktatoran panjang Juan Vicente Gómez. Di satu sisi pendidikan
disikapi acuh tak acuh dan sikap represif terhadap kritik dan tuntutan
mahasiswa. Namun, pendidikan di periode cukup berhasil memeratakan sekolah umum
hingga ke daerah-daerah pedesaan.
Selanjutnya, pada
masa kediktatoran Pérez Jiménez (1948-1958),
pendidikan justru mengalami kemunduran. Rezim ini cukup represif dalam
menanggapi kritik dan keluhan dari kalangan mahasiswa dan fakultas, yang sering
menuntut tanggung jawab pemerintah atas anggaran pendidikan yang dipotong. Hal
ini berdampak pada naiknya biaya pendidikan yang mengakibatkan jumlah siswa
yang masuk dan lulus dari universitas menurun.
Beralihtangannya
Venezuela kepada pemerintahan yang demokratis pada tahun 1958 telah membawa
komitmen untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan pemeretaan pendidikan.
Sejumlah universitas yang baru dibuka di seluruh negeri, seperti penyuluhan
pertanian untuk petani Venezuela, dan program pendidikan karikatif
dipancarsiarkan di radio dan televisi agar kesempatan belajar lebih luas.
Secara umum, dapat diakui bahwa hanya sesudah tahun 1958 cita-cita dan tujuan
Guzmán Blanco mulai diwijudkan secara sistematis. Pemberlakuan enam tahun
sekolah dasar yang wajib sampai 1980, ketika Organic Law tentang Pendidikan
disahkan. Hukum ini berlaku untuk pendidikan prasekolah wajib dan sembilan
tahun pendidikan dasar.
Pada tahap ini,
prestise jurusan filsafat dan sastra masih jauh menonjol dibandingkan jurusan
teknik atau ilmu kejuruan. Padahal, Venezuela pada saat itu sangat membutuhkan
banyak lulusan teknik dan insinyur yang diharapkan dapat mendorong kemajuan
bangsa. Maka sejak 1969 pemerintah telah membuat kebijakan untuk membuka
kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, khususnya pendidikan teknik dan
kejuruan. Selain itu, nampak jeas kesenjangan antara sekolah-sekolah swasta
dengan sekolah yang dibiayai pemerintah. Perbedaan itu nampak dari segi
fasilitas dan gaji tenaga pendidik, bahwa sekolah swasta lebih baik daripada
sekolah negeri, sehingga menimbulkan perspektif bahwa swasta lebih punya
prestise dan favorit di kalangan masyarakat Venezuela.
Venezuela menjadi
negara yang pendidikannya paling berkembang pesat pada 1970-an dan 1980-an
dibandingkan negara Amerika Latin lainnya. Tingkat pastisipasi peserta didik
dan pendidik meningkat tajam. Pendaftaran sekolah dasar naik lebih dari 30
persen dan sekolah menengah dengan lebih dari 50 persen, sedangkan tingkat
universitas pendaftaran hampir dua kali lipat. Universitas paling terkenal dan
tertua adalah Central University of Venezuela, di Caracas.
Bencana dimulai,
tatkala Carloz Andres Perez naik tahta. Kebijakan pemerintah yang notabene
perpanjangan tangan negara imperialis Amerika melalui Structural
Adjusment Program (SAP) yang di gawangi oleh IMF, telah menghantarkan Venezuela
ke jurang Reformasi Ekonomi Neoliberal. Serentetan kisah kemunduran Venezuela
dari Inflasi mencapai 80,7%, upah riil menurun hingga 40%, pengangguran
mencapai 14%, dan 80,42% Rakyat hidup dalam kemiskinan. Skala besar pemiskinan
struktural mulai menyebar dengan bang boom minyak, dan diperparah dengan
kebijakan 'konsensus Washington' (Williamson, 1993). Pendidikan pun mengalami
penurunan sangat drastis, terutama dari segi partisipasi masyarakat. Tak lama rezim ini tumbang dan digantikan
oleh Rafael Caldera.
Pendidikan di era
Caldera sedikit mengalami kebangkitan. Namun, hal yang benar-benar signifikan
dirasakan masyarakat (sektor pendidikan) justru di masa kepemimpinan setelah
Caldera, yaitu pemerintahan Hugo Chávez yang memenangkan Pemilu pada 6
Desember 1998. Pendidikan Venezuela ala transisi Bolivarian siap dijalankan.
Pendidikan ala
Transisi Bolivarian
Setelah Venezuela
dipimpin oleh pemerintahan Chavez, ada upaya untuk merevolusi seluruh sistem
ideologis, yaitu revolusi dengan budaya dan pendidikan. Hal ini menjadi suatu
skema transisi sosialisme ala Chavez. Transformasi pendidikan di Venezuela
secara radikal diarahkan kepada kurikulum dengan kesadaran politik dan kelas
yang lebih tinggi, struktur sosial yang lebih egaliter, dan sebagai tahap
perwujudan konsep menuju model masyarakat baru, yang disebut Sosialisme abad
21. Berikut beberapa peran pendidikan untuk mencapai Transisi Masyarakat
Sosialisme Bolivarian.
Transisi pendidikan
ala Bolivarian menempatkan negara sebagai poros menuju maksimalisasi
kesejahteraan bersama. Dalam hal ini, pendidikan terutama, juga pekerjaan,
perlindungan dan promosi ekonomi sosial adalah kebutuhan pokok strategis yang
pertama harus dipenuhi oleh negara kepada rakyatnya. Pendidikan diarahkan bukan
semata berorientasi untuk bekerja, namun output pendidikan harus mengutamakan
pemberdayaan dan pengabdian demi kepentingan masyarakat.
Pendidikan
Bolivarian menjadi alat sangat penting untuk mencapai "protagonistic"
demokrasi. Maka, prinsip konsep pendidikan ini adalah memperluas partisipasi
pendidikan bagi seluruh rakyat sebagai bagian integral dari kurikulum.
Terkait dengan
percepatan penciptaan institusionalisme aparatur negara baru, de-birokratisasi
dari Negara dan pengembangan kebijakan publik ditandai dengan partisipasi warga
dan tanggung jawab bersama - dalam proses desain, implementasi, dan kontrol
kebijakan. Dan, kedua, ada peran signifikan dalam pemberantasan korupsi di
aparatur negara, di mana pendidikan tinggi harus memberikan pola pikir siap
berkomitmen untuk kepentingan umum dan yang memiliki rasa yang kuat bagi
pengabdian masyarakat.
Pendidikan ditujukan
untuk mempercepat pembangunan model produksi baru menuju terciptanya sistem
ekonomi baru. Pendidikan tinggi Bolivarian harus responsif terhadap kebutuhan
masyarakat yang paling miskin, kritis terhadap realita ekonomi sosial, dan
memberikan kontribusi pada keragaman dan ketahan sektor produksi/industri dalam
rangka untuk melawan ketergantungan dengan modal asing dan pasar liberal.
Untuk melanjutkan
counter sistem kapitalisme internasional ,wakil Menteri Kebudayaan dan SDM,
Héctor Soto, menganggap pendidikan untuk mempromosikan sebuah proyek
edukatif-kultural alternatif dalam sebuah konsepsi geo-politik integrasi
negara-negara Amerika Latin, yang memungkinkan kita untuk menghadapi dan
memetakan proyek monopoli imperialisme. Dalam implementasinya, isi kurikulum
pendidikan tinggi mengarahkan siswa untuk menganalisis masalah-masalah lokal
dari perspektif global (kemiskinan struktural, penjajahan modal, dsb).
Chavez mengutip
parafrase Paulo Freire, dan menegaskan: "the act of reading and studying is a liberating act,
education is liberating, let’s go then, go ahead with education, towards the
liberation of our people" (MES, 2005: 10). Oleh karena itu,
sistem pendidikan Bolivarian dapat dianggap bertujuan melawan segala bentuk
diskriminasi dan dominasi ekonomi antara individu dan kelas sosial, yaitu
"melawan tatanan kapitalis sarat pemiskinan massal struktural dan
kesenjangan kelas" (Freire dikutip di MC, 2005).
Sebagai catatan,
konsep ideologi Bolivarian memang sangat mencolok dan seolah-olah
mengindoktrinasi para anak didik dengan nilai-nilai sosialis. Dampak dari
pemberlakuan pendidikan ala Bolivarian ini sempat juga mendapat protes keras
dari kalangan anti Chavez, termasuk sebagian gerakan mahasiswa. Kritik mereka,
bahwa pendidikan adalah kebebasan setiap peserta didik untuk menganut ideologi
apa pun, namun pendidikan ala Bolivarian telah mengarahkan ke satu ideologi
saja.
Pemerataan Pendidikan
ala Transisi Bolivarian
Awal tahun 2010, ada
laporan UNESCO yang mengatakan 'bahwa 4 juta anak-anak Venezuela berada tak
berpendidikan, namun Menteri Pendidikan Hector Navarro membantah klaim dari
pemimpin oposisi (anti Chavez) itu. Sebaliknya, banyak hal yang luput dari
analisa laporan itu. Diantaranya misi pendidikan yang disiapkan pemerintah
sebagai antisipati ketidakmerataan pendidikan tidak diperhitungkan oleh laporan
itu. Venezuela mencoba memajukan pendidikan di semua bidang, seperti pendidikan
bayi, pendidikan kualitas bagi pengajar, misi pendidikan gender, misi melek
huruf pemuda dan orang dewasa, peningkatan kualitas pendidikan, dan kebutuhan
belajar orang dewasa dan pemuda.
Sejak tahun 2003
pemerintah telah meluncurkan berbagai misi untuk mengatasi masalah pendidikan,
antara lain Misi Sucre; yaitu
pendidikan setingkat universitas untuk orang-orang yang sebelumnya dikeluarkan
dari pendidikan (drop out atau putus sekolah), karena faktor biaya dan lokasi. Misi
Ribas; untuk
melayani pendidikan sekunder bagi siswa dewasa (yang tidak sempat mengenyam
pendidikan sekolah). Misi Robinson; konsep pendidikan untuk memberantas
buta aksara. Setengah juta mahasiswa lulus dari Misi Ribas dalam tiga tahun
pertama dan pada tahun 2008 Misi Sucre memiliki 527.000 siswa yang terdaftar.
Ada pula Senifa (Layanan Pendidikan untuk Bayi dan Keluarga). Senifa adalah
lembaga pemerintah yang bertujuan untuk memberikan pendidikan awal dan bantuan
untuk anak usia 0-6 melalui pengasuhan anak masyarakat, disebut Simoncitos
(semacam Paud).
Tak pelak, dari
rentetan historinya, penyelenggaraan pendidikan di Venezuela terbilang cukup
maju dibanding negara-negara Amerika Latin lainnya. Data dari Education for all
Development Index, menyebutkan bahwa Venezuela menempati peringkat
ke-55 untuk tingkat melek huruf orang dewasa, ke-74 untuk kesetaraan
gender, dan ke-49 untuk tingkat partisipasi siswa ex-putus sekolah.
Tulisan ini sekedar
mengantarkan kepada wacana tentang strategi dan semoga menjadi tawaran ke depan
dalam membangun suatu sistem pendidikan yang kita cita-citakan (Pendidikan
Gratis, Ilmiah, Demokratis, dan Bervisi Kerakyatan).
Sumber :
Venezuela : Higher
Education for All oleh Thomas Muhr dan
Antoni Verger – Journal for Critical Education Policy Studies
US Library of
Congress
Oleh : Nuy Lestari, KPP DPP SMI




0 komentar:
Posting Komentar